22 September 2023

KENANGAN DARI MASA LALU: KECER WAYANGANNYA MEMAKAI MEMAKAI PIRING DAN SENDOK



Bram Palgunadi




Ini merupakan foto lawas satu-satunya, yang saya rekam pada sekitar tahun 1980-an, saat saya sedang melakukan survei lapangan, dalam rangka penyusunan skripsi saya, yang berjudul 'Gamelan Jawa'. Dibuat di sebuah desa pedalaman, yaitu Desa Dhadhap-Ayam, yang lokasinya terletak di sebelah timur-laut Kota Sala-Tiga; agak jauh ke arah pedalaman, dan merupakan wilayah pegunungan. Rekaman dilakukan pada saat dilaksanakannya pagelaran wayang kulit purwa gagrak Pesisir, dalam rangka upacara ritual adat Bersih Desa.

Dari Mbak pesindhen yang 'janda kembang' inilah, saya belajar memainkan 'kecer wayangan', yang karena ricikan kecer-nya tidak tersedia, lalu diganti menggunakan piring keramik dan sendok dan garpu. Suaranya yang gemerincing ringan, benar-benar membuat saya jatuh hati. Karenanya, saya lantas berusaha menguasainya, dan belajar seketika saat itu, diajari oleh Mbak pesindhen muda itu. Beberapa saat kemudian, saya bisa memainkannya. Sempat memainkannya juga selama beberapa saat, pada pagelaran wayang kulit purwa gaya Pesisir itu...

Dan, pada pagelaran resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir, yang ditampilkan di Aula Barat ITB, hari Minggu, tanggal; 20 Agustus 2023 yang lalu, saya meminta MBak Winda, sahabat baru saya, untuk memainkan kecer wayangan. Sebenarnya, di PSTK-ITB, ada ricikan kecer wayangan, tetapi bilah kecernya kelihatannya terlampau tebal, sehingga suara yang dihasilkan tak bagus. Karenanya, saya lalu berburu piring keramik. Dan, dapatlah dua piring keramik, yang menghasilkan suara yang sedikit berbeda. Mbak Winda, akhirnya memilih piring keramik yang menghasilkan suara gemerincing agak lebih tinggi. Sedangkan proses membunyikannya, semula (seperti aslinya), adalah menggunakan sepasang sendok dan garpu logam. Tetapi setelah dicoba memainkannya, selama beberapa saat, saya dan Mbak Winda, akhirnya memilih memainkannya menggunakan dua buah sendok saja. Bukan memainkan menggunakan sendok dan garpu.

Sewaktu Mbak Winda memainkan kecer wayangan dari piring dan sendok logam itu, ingatan saya tiba-tiba saja melayang kembali, ke tahun 1980-an. Bahkan, saya bisa mendengarkan kembali, suara pagelaran wayang kulit purwa gaya Pesisir itu, di Desa Dhadhap-Ayam; yang diiringi menggunakan 'Gamelan Gunung', yang hanya menggunakan sebuah Gong Ageng bernada 1, sebagai Gong Ageng dan sekaligus juga sebagai Gong Suwukan; yang bunyinya lebih mirip dengan Gong Gamelan Bali. Saat bertama kali saya mendengarnya, terasa asing dan sangat aneh. Tetapi selepas satu jam kemudian, semua yang saya dengar itu, seperti menjadi biasa, dan tak terasa aneh lagi. Sewaktu menampilkannya dalam resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir di Aula Barat ITB, semua suasana yang terjadi di Desa Dhadhap-Ayam saat itu, tiba-tiba saja hidup kembali, membayang di benak saya. Membuat semua kenangan menjadi tampil, persis seperti yang terjadi 43 tahun yang lalu......

Tidak ada komentar: