Para Wira-Pradangga
Tulisan ini, mengisahkan bagaimana upaya sekelompok kecil pegiat budaya dan kesenian Jawa, yang terdiri dari para mahasiswa-mahasiswi yang merupakan 'anggota baru' Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan - Institut Teknologi Bandung (PSTK-ITB), bersama sejumlah pendukung, yang terdiri dari beberapa anggota lama PSTK-ITB yang juga alumni ITB, sejumlah anggota masyarakat, serta beberapa alumni ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia), Bandung. Kelompok kecil ini, oleh para alumni ITB, yang merupakan anggota PSTK-ITB angkatan lama, khususnya angkatan 78, diminta tampil sebagai pembuka pagelaran wayang kulit purwa, yang akan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 20 Agustus 2023, di ruang besar Gedung Aula Barat ITB.
Ini merupakan bagian, dari proses perjalanan untuk menampilkan suatu resital karawitan wayangan, yang prosesnya tak banyak diketahui oleh orang lain (orang luar). Berbagai kendala dan kesulitan yang dialami, secara langsung menjadi bagian yang tak bisa dihindari. Mereka itu, saya sebut 'wira-pradangga'. Istilah 'wira', itu artinya: ksatria, ksatria yang gagah berani, berani, pemberani, orang yang berani melakukan sesuatu. Sedangkan istilah 'pradangga', artinya: pemain gamelan, penabuh ricikan gamelan. Setara dengan istilah 'nayaga', 'yaga', atau 'pangrawit'. Jadi, arti lengkapnya adalah 'orang yang berani memainkan ricikan gamelan'. Sebab, nyatanya memang tak semua orang berani memainkan ricikan gamelan. Apalagi, bagi orang yang sedang dalam tahap belajar memainkan ricikan gamelan, biasanya memang terjadi suatu kondisi gamang, takut salah, atau takut memainkan ricikan gamelan, karena merasa belum saatnya tampil, atau karena merasa belum menguasai benar cara memainkannya. Ya begitulah kenyataannya. Maka, mereka yang berani tampil, meskipun masih 'hijau', saya sebut 'wira-pradangga'. Penabuh gamelan yang berani...

Saat Pandemi Covid-19 merebak
Ini merupakan suatu peristiwa yang betul-betul menghempaskan, dan kemudian, juga cenderung melenyapkan berbagai kegiatan kebudayaan dan kesenian, nyaris sampai ke semua sendinya. Berbagai pagelaran tak dapat dilakukan. Berbagai kegiatan berkumpul, yang diperlukan untuk melakukan kegiatan pelatihan, tak bisa dilakukan. Jadi, seluruh kegiatan, pada masa pandemi Covid-19 itu, nyaris berhenti total. Begitu pula, berbagai kegiatan extra kurikuler, yang biasanya meramaikan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Sepanjang nyaris tiga tahun, sejak seluruh kegiatan berkumpul dan bertemu, dilarang dilaksanakan, kampus menjadi sunyi. Tak ada mahasiswa, dosen, pegawai, tamu, atau pengunjung; yang diperbolehkan masuk kampus; kecuali, sejumlah kecil orang dan petugas yang memang ditunjuk untuk melakukan sesuatu di dalam kampus.
Pada masa pandemi itu merebak, kampus ditutup total. Semuanya dilakukan secara 'daring' (on-line). Sejumlah kegiatan mahasiswa, diupayakan tetap berlangsung secara 'daring'. Begitu juga proses perkuliahan. Namun, kenyataannya, tak semua kegiatan itu bisa berjalan secara 'daring'. Mungkin, mata-kuliah dan mata-pelajaran teoretis, masih bisa dilakukan secara daring. Begitu juga, berbagai pertemuan, rapat, diskusi, atau wawancara, konferensi, serta seminar. Tetapi, sejumlah mata-kuliah dan mata-pelajaran yang seharusnya dilakukan secara praktik, nyatanya menemui kesulitan, dan jalan buntu, meskipun berbagai teknologi tercanggih sudah diupayakan untuk digunakan. Misalnya, bagaimana proses menggambar, melukis, percobaan kimia, percobaan fisika, atau pelajaran praktika lainnya, yang biasanya dilakukan di studio atau laboratorium, bisa berjalan, jika harus dilakukan secara daring? Dan, selama nyaris tiga tahun itulah, banyak mata-kuliah dan mata-pelajaran, yang akhirnya saya sebut saja 'ngarang' dan mengada-ada pelaksanaannya. Tidak masuk akal, tetapi tetap harus dilakukan. Hasilnya? Jangan tanya apa-apa. Lakukan saja. Begitulah kenyataan yang terjadi.
Begitu pula yang terjadi dengan unit-unit kesenian, seperti PSTK-ITB misalnya. Bagaimana suatu latihan karawitan atau beksan (tari), bisa dilakukan? Kalau semuanya hanya bisa dilakukan secara daring (Inggris: on-line). Menabuh ricikan gamelan memakai komputer desktop atau laptop? Ya..., tentu saja bisa, jika hendak dipaksakan. Tetapi, kenyataannya upaya seperti ini nyaris mustahil, kalau tidak boleh dikatakan sama sekali tidak bisa dilakukan. Tingkat kesulitannya, menjadi amat sangat tinggi. Menjadi maha sukar. Itu sebabnya unit-unit kegiatan extra kurikuler seperti PSTK-ITB, lalu cenderung 'berhenti beroperasi', dan ruang sekretariatnya, lalu berubah menjadi 'ruang hantu', karena kosong, tak ada penghuninya sama sekali.
Gambar 2. Meskipun Pandemi Covid-19 sudah berakhir, dan sebenarnya berbagai kegiatan di kampus ITB sudah boleh dilakukan kembali, tetapi suasana kampus masih relatif sunyi. Foto sebelah kiri, menampilkan gerbang selatan kampus ITB, dengan jam gadang di sebelah atasnya, dilihat dari arah dalam kampus, yakni dari arah utara, ke arah selatan, ke arah luar kampus. Foto sebelah kanan, menampilkan di kejauhan, Gedung Campus Center ITB, dilihat dari arah selatan ke arah utara, yakni dari dekat gerbang selatan kampus ITB. (Sumber: Foto koleksi petulis).
Di kampus ITB, berbagai kegiatan extra kurikuler, yang dilakukan para mahasiswa-mahasiswi pada berbagai unit kegiatan mahasiswa, dipaksa untuk melakukan kegiatannya secara daring. Tak semua bisa dilakukan secara lancar. Di unit PSTK-ITB, saya masih sempat mengalami, ada pertemuan antara mahasiswa dan nara-sumber, dalam suatu kegiatan pengenalan unit, yang dilakukan secara daring, menggunakan fasilitas 'zoom' yang disediakan oleh google. Fasilitas itu, bagus jika digunakan untuk kegiatan yang tepat. Tetapi, tak menghasilkan apa-apa, jika digunakan untuk berbagai kegiatan, yang memerlukan kegiatan praktika secara langsung. Misalnya, bagaimana seseorang bisa memainkan ricikan (instrumen) gamelan, kalau seluruh prosesnya dilakukan secara daring, sementara pesertanya sama sekali tak memegang ricikan gamelan itu. Pesertanya, hanya menghadapi layar monitor laptop atau desktop. Ini, salah satu kegiatan, yang saya katakan 'ngarang', dan tak masuk akal, tetapi tetap harus dilaksanakan. Hasilnya? Jelaslah efektifitasnya amat sangat rendah. Dan, dampaknya? Perlahan-lahan tetapi pasti, pesertanya pelan-pelan menghilang dari peredaran, karena mungkin tak melihat ada gunanya bagi dirinya. Bahkan, juga tak bisa melihat adanya kesenangan bagi dirinya. Lalu, pada suatu ketika, seluruh peserta itu lenyap begitu saja. Kegiatanpun, ikut lenyap pula. Lalu, unit kegiatan mahasiswa itu, mulai membekukan dirinya. Membekukan pula, segala kegiatannya. Begitu pula yang terjadi di unit PSTK-ITB.
Pertemuan tiga sahabat, dan proklamasi
Pandemi Covid-19 semakin merebak, dan memakan banyak korban. Itu dampak langsung yang terasa di masyarakat. Tahun, tiba-tiba saja berganti. Kepengurusan unit-unit seperti PSTK-ITB, tiba-tiba juga harus ganti. Biasanya, pergantian pengurus dilakukan setahun sekali. Jadi, pengurus biasanya hanya mempunyai masa jabatan sepanjang satu tahun. Sewaktu Pandemi Covid-19 merebak hebat, tiba-tiba saja unit PSTK-ITB menemukan dirinya, tak mempunyai anggota, yang seharusnya bisa dipilih, untuk menjadi pengganti pengurus tahun sebelumnya. Jadi, secara de facto, maupun secara de yure; pada masa Pandemi Covid-19 itu, unit PSTK-ITB ternyata tidak ada anggota, tidak ada ketuanya, dan tidak ada pula badan pengurusnya. Artinya, ini bisa dikatakan, bahwa unit PSTK-ITB secara de facto, maupun secara de yure; bisa dinyatakan bubar. Ya benar...! Bubar...!
Meskipun baru terjadi beberapa bulan yang lalu, tetapi saya terus terang lupa, dan memang tidak berusaha mengingat waktu terjadinya. Tetapi, yang saya ingat, adalah saya mendapat pertanyaan dari seorang sahabat saja, yang berasal dari luar kampus, yang menanyakan kepada saya: "Apakah kegiatan di dalam kampus ITB sudah mulai berjalan normal, atau belum...?" Sedangkan, dari sejumlah alumni ITB, yang merupakan anggota lama PSTK-ITB dari masa lalu, tiba-tiba ada yang menanyakan kepada saya, tentang bagaimana situasi dan kondisi gamelan milik PSTK-ITB. Juga menanyakan situasi dan kondisi aktifitas PSTK-ITB.
Selama puluhan tahun, yakni sejak saya masih kuliah, mulai tahun 1974; sampai awal merebaknya Pandemi Covid-19, yakni pada tahun 2019 - 2020; saya bisa dikatakan merupakan satu-satunya alumni ITB, anggota PSTK-ITB, yang aktif terus-menerus di PSTK-ITB. Memang, ada masa-masa tertentu pada kurun waktu tahun 1974 - 2023, saat saya selama beberapa waktu, saya tidak bisa melakukan aktifitas di PSTK-ITB, disebabkan berbagai kesibukan saya waktu itu. Tetapi, selepas tahun 2000, saya benar-benar bisa melakukan kembali aktifitas saya di PSTK-ITB secara rutin dan teratur. Kegiatan saya, berhenti total, secara tiba-tiba, saat Pandemi Covid-19 merebak hebat dan mengganas; sehingga kampus ITB terpaksa harus melakukan penutupan secara total.
Disebabkan oleh adanya pertanyaan dari beberapa sahabat saya yang merupakan 'orang luar kampus', serta anggota lama PSTK-ITB; maka tiba-tiba saja saya jadi terpicu, ingin tahu juga, bagaimana sebenarnya situasi dan kondisi PSTK-ITB. Pertama kali, upaya saya adalah berusaha menghubungi pengurus PSTK-ITB yang menjabat pada sekitar tahun 2020-an. Tetapi upaya ini tak membuahkan hasil sama sekali. Tak ada kontak. Tetapi akhirnya, entah bagaimana awalnya, saya sudah lupa, saya mendapat informasi pertama justru dari Mas Agung, yang tinggal di Bandung selatan. Ia juga anggota PSTK-ITB. Lalu, saya menghubungi Pembina PSTK-ITB, yaitu Mas Getbogi. Dari kedua kontak itulah saya mendapat informasi, bahwa PSTK-ITB sebenarnya memang sudah tidak ada lagi. Sudah bubar...!! Tetapi, dari Mas Getbogi, saya mendapat informasi, bahwa ada seorang mahasiswa ITB, angkatan tahun 2022, yang berkehendak dan bersedia untuk melanjutkan kepengurusan PSTK-ITB.
Lalu, saya melakukan kontak kepada Mas Vito, yang ceritanya hendak mencalonkan diri menjadi ketua PSTK-ITB. Tetapi, ternyata dia sedang berada di Sura-Baya, untuk mengikuti Lomba Macapat. Saya, lalu bersepakat untuk bertemu, selepas dia kembali ke Bandung nanti. Dan itu berarti bulan depannya.
Tepat sebulan kemudian, benar saja. Pertemuan bisa dilakukan dengan Mas Vito. Pada hari Minggu, pagi yang cerah, saya melakukan pertemuan dengan Mas Vito, dan Mbak Vina, yang ternyata mantan ketua PSTK-ITB masa tahun 2021. Pertemuan dan diskusi dilakukan di Ruang Latihan Bersama (RLB), Campus Center, yang selama ini digunakan sebagai ruang latihan karawitan. Pertemuan bertiga itu, mempersoalkan 'status' PSTK-ITB, yang secara de facto dan secara de yure, sebenarnya berada dalam kondisi yang sudah bisa dikatakan bubar sama sekali. Penyebabnya, tidak ada anggota, dan tidak ada badan pengurusnya.
Dalam kondisi yang seperti ini, saya mengusulkan kepada Mas Vito, untuk berusaha mengumpulkan siapapun yang bersedia menjadi anggota PSTK-ITB. Boleh mantan anggota, atau mereka yang ingin jadi anggota. Dalam kondisi darurat seperti ini, saya mengusulkan supaya dikumpulkan saja sedapatnya. Lalu, dibuat kesepakatan saja, siapa yang hendak jadi ketua PSTK-ITB. Tidak perlu mempersoalkan apakah demokratis atau tidak demokratis. Yang penting keputusannya harus didasarkan kepada suatu kesepakatan. Setelah itu, secara resmi harus dilakukan proses 'deklarasi', atau bisa juga dilakukan proses 'proklamasi' PSTK-ITB. Jika hal itu sudah dilakukan, maka secara resmi PSTK-ITB boleh dikatakan 'hidup kembali'. Dan, sebagai kelengkapan proses itu, harus diterbitkan semacam 'dekrit', atau kalau dalam bidang tata negara, bisa dilakukan penerbitan suatu 'keppres' (keputusan Presiden); yang pada dasarnya menyatakan bahwa setelah organisasi ini secara resmi berdiri kembali, akan diberlakukan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD & ART) yang lama (yang berlaku pada masa organisasi tersebut belum bubar).
Ini adalah 'pertemuan' yang dilakukan saat peresmian kembali hidupnya PSTK-ITB. Dirayakan, dengan makan nasi tumpeng bersama-sama.
Begitulah proses yang saya usulkan. Sejauh ini, yang jelas sudah dilakukan adalah upaya menghidupkan kembali organisasi PSTK-ITB. Tetapi, belum jelas benar, apakah dokumen resminya sudah dibuat, atau belum. Karena, nantinya suka atau tidak suka, harus dilakukan penyusunan dokumen resmi, yang harus diketahui, dan juga harus ditanda-namai, tidak hanya oleh ketua PSTK-ITB, tetapi juga ditanda-namai oleh Pembina PSTK-ITB, dan jika perlu juga saksi-saksi. Bagaimanapun juga, saat ini existensi PSTK-ITB sudah bisa dikatakan 'berhasil dihidupkan kembali'. Tinggal soal berkas-berkas dokumen resminya saja yang harus dibereskan.
Dimulai dengan Tembang Suluk Pesisir
Selepas kita bertiga berdiskusi dan bersitegang soal organisasi PSTK-ITB, yang akhirnya bisa disepakati penyelesaiannya, maka tibalah kita pada suatu waktu untuk mendinginkan kepala. Saya, menarik Ricikan Gender Pambarung, dan kemudian memainkannya, sambil melantunkan Tembang Suluk Pesisir. Nikmat banget bisa melakukannya, karena sudah nyaris tiga tahun saya tak pernah melakukannya, sebagai akibat merebaknya Pandemi Covid-19, yang melenyapkan segala kegiatan menembang itu. Saya memainkan Ricikan Gender Pambarung, sementara Mas Vito, berusaha mengikuti lantunan tembang saya. Sedangkan Mbak Vina, melihat dan memperhatikan saja, apa yang kita lakukan berdua. Dan begitulah yang awalnya terjadi.
Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan perekaman video, hasil Mas Vito saat melantunkan Tembang Suluk Pesisir itu. Semua itu, dilakukan tanpa panduan atau acuan apapun. Mungkin keberhasilannya karena Mas Vito memang sudah mempunyai bekal kebiasaan melantunkan Tembang Macapat. Jadi, tak terlalu sukar untuk mengikuti lekuk-liku lantunan Tembang Suluk Pesisir, yang banyak menggunakan nada minor. Atau, lebih dikenal dengan sebutan 'Laras Slendro Barang Miring'.
Menghidupkan kembali
Ini merupakan bagian yang amat menyenangkan, karena setelah berlangsung selama tiga tahun tak pernah menyentuh gamelan, akhirnya saya bisa memainkannya kembali. Begitulah yang terjadi.
Rupanya Mas Vito berhasil mengumpulkan sekitar 15 orang anggota baru PSTK-ITB. Sebenarnya, ada juga sejumlah anggota yang merupakan angkatan yang lebih lama. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan 'anggota lama', tak lebih jauh dari tahun 2018. Beberapa di antaranya sudah menyelesaikan pendidikannya di tingkat sarjana (S-1), dan sedang menunggu pendidikan selanjutnya. Atau, sedang mempersiapkan diri, untuk menempuh masa depannya. Beberapa di antara mereka, ada yang sedang menempuh tingkat akhir, dan sedang mempersiapkan sidang tugas akhirnya. Tetapi, mereka yang tergolong ke dalam kategori ini, relatif sedikit. Sedangkan bagian yang terbesar, merupakan mahasiswa baru, yang baru saja menempuh jenjang pendidikan pada tingkat pertama, yang lazim disebut 'Tingkat Pertama Bersama' atau lebih dikenal dengan sebutan TPB.

Hari-hari pertama awal bulan Juli 2023, diisi dengan pertemuan, perkenalan, dan memulai kegiatan latihan karawitan wayangan lagi.
Kesulitan yang segera timbul, adalah bahwa menjelang dan pada bulan Agustus, banyak sekali kegiatan mahasiswa yang kebanyakan berhubungan dengan 'os-jur', atau 'orientasi studi jurusan'. Kegiatan ini celakanya, sebagian besar benar-benar menyita waktu para mahasiswa. Sementara, kegiatannya juga berlangsung di ITB Jati-Nangor, yang jaraknya cukup jauh dari ITB Ganesa, yang lokasinya di Kota Bandung. Jika memakai kendaraan, seperti sepeda-motor, mobil, atau kendaraan lain misalnya; jarak antara lokasi ITB Ganesa dan ITB Jati-Nangor, biasanya bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu sampai dua jam. Bergantung kepada kondisi jalan raya. Jalan raya antara kedua tempat itu, terkenal kemacetannya yang relatif parah, nyaris dari pagi sampai sore hari. Terutama pada jalur antara Ci-Biru - Ci-Caheum - Kota Bandung.
Bagian paling awal yang dilakukan selepas 'diresmikan kembali', adalah memulai berbagai kegiatan. Salah satunya, adalah memulai kembali kegiatan latihan karawitan wayangan.
Pelaksanaan latihan karawitan wayangan dan tembang, tak bisa berjalan lancar, karena banyak kendala dan hambatan, yang berkait-erat dengan banyaknya kegiatan lain, yang menyita waktu. Beruntung, beberapa orang mahasiswa-mahasiswi tetap bisa mengikuti latihan, yang dilakukan pada hari Minggu pagi, mulai dari sekitar pukul 10:00 pagi sampai sekitar pukul 15:00 sore. Persoalan lain yang timbul, adalah setiap kali latihan, pesertanya cenderung berganti-ganti. Jadi, pelaksanaan latihan karawitan menjadi tidak efektif. Begitulah yang terjadi, pada awalnya.
Rupanya Mas Vito dan sejumlah peserta latihan juga melihat masalah ini. Pada sesi berikutnya mereka mengusulkan supaya latihan karawitan dilakukan seminggu dua kali, yaitu pada hari Sabtu dan hari Minggu, dimulai dari pukul 10:00 pagi, sempai sekitar pukul 14:00 siang. Khusus untuk hari Minggu bisa lebih sore selesainya. Tetapi, pada hari Sabtu, tak bisa lebih sore lagi, karena ruang latihannya pada sore hari dipakai oleh unit musik klasik.
Soal ruang latihan yang digunakan bersama ini juga membuat sejumlah masalah tersendiri. Misalnya, latihan karawitan dan tembang sedang berlangsung, sementara di ruang sebelah, seseorang memainkan piano, biola, atau alat musik lainnya. Jadi, konsentrasi peserta menjadi terpecah, dan latihan menjadi tidak efektif. Itu baru satu masalah. Masalah lain, yang terbukti juga sangat mengganggu, adalah di antara himpitan sejumlah ricikan gamelan, ternyata bersarang sejumlah kucing, yang setiap kali berisik suaranya.
Beberapa waktu kemudian, Mas Vito, ditemani Pak Satpam, dan anggota PSTK-ITB melakukan operasi perburuan kucing. Dan, yang mencengangkan, ternyata ditemukan paling tidak delapan tulang-belulang kucing yang sudah lama mati. Lalu, berhasil diusir dua ekor kucing. Padahal, sehari-harinya ada sekitar empat atau lima ekor kucing (satu induk dengan empat anak), yang bersarang di antara ricikan gamelan. Apakah Anda tahu, apa yang terjadi, dan mengapa perburuan itu perlu dilakukan? Ternyata kucing-kucing itu kurang-ajar, karena membuang hajatnya di lantai, dan membuat selain kotor juga bau yang tak sedap, serta menyengat, sehingga sangat mengganggu.

Memulai kembali berlatih menggunakan materi wayangan dan Tembang Suluk Pesisir.
Jarak antara hari pagelaran dengan awal mula hari latihan dimulai, semakin dekat saja. Materi untuk tampil di pagelaran wayang tanggal 20 Agustus 2023, saya sederhanakan. Jadi, saya memutuskan, tetap akan melaksanakan suatu resital karawitan wayangan. Materi ini, sebenarnya sangat mudah untuk mereka yang sudah terbiasa menabuh gamelan. Tetapi, bagi mereka yang baru mengenal dunia gamelan, tentu ini merupakan masalah yang maha sukar. Harap diketahui, memainkan karawitan Jawa dengan gaya 'biasa', misalnya seperti untuk pagelaran 'klenengan', amat sangat berbeda dengan untuk 'pagelaran wayangan'.
Kalau menurut istilah saya, memainkan karawitan Jawa yang mengikuti pola 'klenengan', pelaksanaannya jauh lebih teratur, dan 'lebih sopan'. Selain itu, kecepatan permainannya cenderung tidak banyak berubah. Begitu pula tingkat kekerasan suara tabuhan yang dihasilkan, cenderung tak begitu keras. Sedang-sedang saja. Permainan yang ditampilkan, juga cenderung tidak terlalu dinamis, meskipun tidak bisa dikatakan statis. Ada dinamikanya juga, tetapi tidak extrim.
Sedangkan pada permainan karawitan yang mengikuti pola 'wayangan', pelaksanaannya jauh lebih dinamis, tidak teratur, penuh dengan hentakan irama, tabuhan yang kerasnya bisa berubah-ubah. Dalam istilah saya, gaya wayangan itu bolehlah dibilang 'lebih kurang-ajar', tetapi jauh lebih merdeka, dan jauh lebih expresif. Suara yang dihasilkan, bisa amat sangat pelan, lembut, nyaris tak terdengar, sangat romantis, penuh dengan kesenduan; lalu tiba-tiba bisa berubah seketika menjadi amat sangat cepat irama permainannya, dengan suara tabuhan yang amat sangat keras (disebut 'tabuh sora'), menghentak-hentak, bisa juga riuh-rendah, penuh dengan sorak-sorai, tepuk tangan berirama, dan teriakan 'senggakan'. Apalagi, kalau sedang memainkan pola 'kiprah' yang semarak dan penuh dengan hentakan. Tapi suatu ketika, bisa juga tiba-tiba permainan dihentikan dalam irama yang amat sangat cepat. Atau, bisa juga sebaliknya, suara gamelan sedemikian pelan, sehingga nyaris tak terdengar. Misalnya, saat sedang bermain dalam pola 'sirepan'. Permainan gaya wayangan, menghasilkan hubungan emosional yang luar biasa, antara para wira-pradangga yang memainkan berbagai ricikan gamelan itu, dengan kesan (Inggris: image), yang hendak disajikan.
Celakanya, permainan karawitan gaya wayangan, menghendaki spesifikasi wira-pradangga yang secara teknis sudah mumpuni, sudah mahir, sudah bisa menabuh ricikan gamelan sambil 'merasakan' dan 'menghayati' kesan yang ditimbulkan. Tak sekedar membunyikan ricikan gamelan semata. Di sinilah letak kesulitan utamanya, karena para wira-pradangga yang hendak tampil melakukan resital karawitan wayangan nanti, merupakan sekelompok anggota PSTK-ITB yang bahkan membunyikan ricikan gamelan saja baru saja mengenal. Jangan tanya soal kebisaan, kecanggihan, atau keterampilannya. Orang yang belajar memainkan karawitan wayangan, biasanya sudah menguasai bagaimana cara memainkan ricikan gamelan, serta sudah mengalami belajar menabuh gamelan tingkat dasar sebelumnya. Lazimnya, mereka baru mulai memainkan karawitan wayangan selepas satu tahun atau dua tahun setelah mulai belajar memainkan ricikan gamelan. Jadi, biasanya tahapannya, adalah belajar memainkan ricikan gamelan tingkat dasar lebih dahulu, kalau sudah mahir, barulah mulai belajar memainkan karawitan wayangan. Seperti itulah proses yang normal berlaku di manapun.
Apakah para wira-pradangga yang akan menampilkan resital karawitan wayangan sudah mahir menabuh ricikan gamelan? Jawabnya, jelas belum mahir. Apakah mereka sudah pernah mengikuti proses belajar menabuh ricikan gamelan tingkat dasar? Jawabnya, ada yang sudah pernah, tetapi banyak yang sama sekali belum pernah. Bahkan memegang 'tabuh' pemukul bilah ricikan gamelan saja, masih banyak yang tidak bisa melakukannya secara tepat. Apakah mereka sudah pernah belajar memainkan karawitan gaya wayangan? Jawabannya tak seorangpun dari mereka itu yang pernah melakukannya. Jadi, ini merupakan kali pertama bagi mereka, untuk merasakan bagaimana sebenarnya permainan karawitan gaya wayangan. Apakah logis dan masuk akal, untuk mereka yang sebenarnya tak punya pengetahuan dasar (Inggris: basic knowledge) dalam teknik dan cara memainkan ricikan gamelan yang cukup, untuk memainkan karawitan wayangan? Kalau itu pertanyaannya, maka sudahlah jelas jawabnya adalah pasti 'tidak logis' dan 'tidak masuk akal'.

Akhirnya, bisa dikumpulkan sejumlah anggota PSTK-ITB, yang akan dijadikan Wira Pradangga. Tetapi persoalah latihan yang rutin, tetap menjadi kendala utama. Penyebabnya, kegiatan para mahasiswa yang sangat beragam, lokasi kampus yang jauh, yaitu di Kampus ITB Jati-Nangor, sedangkan latihan diadakan di kampus ITB Ganesa; serta kesibukan dan kegiatan kuliah dan praktikum yang memenuhi jadual para anggota baru PSTK-ITB.
Tetapi, saya amat sangat menyakini, seperti juga pada pagelaran wayang kulit purwa, sering saya sampaikan, bahwa suatu pagelaran wayang kulit purwa, bisa dimainkan dalam berbagai versi. Dari versi yang amat sangat sederhana, sampai versi yang sedemikian canggih dan rumit. Begitu pula, dalam permainan karawitan wayangan, bisa juga dipilih versi yang sesuai dengan keinginan, atau sesuai dengan keterbatasan yang ditemukan. Hal itulah yang saya lakukan. Yakni memainkan karawitan wayangan, sesuai dengan keterbatasan yang ditemukan.
Salah satu yang saya lakukan, adalah merencanakan baik-baik materi yang akan ditampilkan, sehingga menjadi sangat sederhana, tetapi tetap menghasilkan permainan karawitan gaya wayangan. Itu sebuah kompromi. Tetapi saya tidak melakukan kompromi apapun, untuk materi Tembang Suluk Pesisir yang akan ditampilkan. Jadi, untuk tembang suluk yang akan ditampilkan, benar-benar melatihkan dan menggunakan tepat seperti yang digunakan pada pagelaran wayang kulit purwa Gaya Pesisir. Sama sekali tidak dikurangi, tidak diubah, dan juga tidak dimodifikasi. Dilantunkan tepat seperti aslinya, menggunakan nada-nada Laras Slendro Barang Miring, atau menggunakan nada-nada minor.
Selama ini, saya biasanya hanya mengiringi lantunan Tembang Suluk Pesisir itu, menggunakan tabuhan Gender Pambarung. Tetapi kali ini, untuk pagelaran resital karawitan wayangan yang direncanakan, saya ingin menampilkannya secara lengkap. Yaitu, menggunakan iringan Gender Pambarung, Gender Panerus, Rebab, Suling, Gambang Kayu, Gong Suwukan, serta Kenong. Sedangkan pada kelompok calon penabuh yang merupakan para anggota baru PSTK-ITB, hanya ada penabuh kempul dan gong; serta penabuh kethuk dan kenong. Untuk ricikan lainnya sama sekali tak tersedia. Bahkan, untuk penabuh kendhang wayangan saja tak tersedia. Untuk ini, saya mencari solusi, bagaimana supaya penabuh ricikan yang diperlukan, bisa ada penabuhnya.
Orang pertama yang saya hubungi, adalah sahabat lama saya, Mas Lukman Samboja. Dia super sibuk dengan berbagai kegiatannya. Tetapi, beruntungnya, Mas Lukman Samboja bersedia membantu. Saya memerlukan Mas Lukman Samboja ini, untuk dua keperluan yang berbeda. Pertama, saya memerlukan pemain kendhang. Kedua, saya memerlukan Mas Lukman Samboja dengan 'komandan balungan', yang diperlukan jika terjadi mala-petaka saat pagelaran. Karenanya, ia harus memainkan ricikan balungan yang paling dominan, yaitu Saron Panembung atau Demung.
Beberapa puluh tahun yang lalu, saya mempunyai kelompok pemain karawitan wayangan di PSTK-ITB, yang kelompoknya terkenal dengan sebutan 'G-76'. Pada kelompok itu, saya juga mempunyai seorang 'komandan balungan', yang juga memegang ricikan Demung. Namanya Mas Eka Jalitheng. Kedua orang ini sama tangguh dan sama andal. Sukar mencari pengganti, karena dalam 'kilatan cahaya halilintar' yang satu-per-sejuta detik saja (maksudnya dalam waktu yang amat sangat pendek), bisa membuat keputusan, untuk memperbaiki permainan gamelan yang tak sengaja ternyata rusak misalnya.
Orang kedua, yang saya hubungi adalah Mbak Ayu 'Kuke' Wulandari. Dia juga super sibuk, dengan berbagai kegiatannya yang kebanyakan berhubungan dengan kegiatan 'geo-trek'. Mbak Ayu ini, merupakan seorang panembang andal, yang suaranya luar-biasa, pada kelompok Tembang Suluk Pesisir. Saya memerlukan kemampuan dan kecanggihannya, untuk mendukung pagelaran resital karawitan wayangan. Luar biasanya, di antara kesibukannya, Mbak Ayu ternyata bersedia mendukung. Sampai sekarang, persahabatan saya dengan Mbak Ayu, bisa dibilang sudah berlangsung sedikit lebih dari sepuluh tahun. Pertama kali saya bertemu Mbak Ayu, adalah pada tahun 2013, tepat sepuluh tahun yang lalu, di ruang belakang Aula Timur. Waktu itu sekretariat dan ruang gamelan PSTK-ITB berada di ruang belakang Aula Timur itu. Entah bagaimana awalnya, yang jelas, Mbak Ayu, saat pertama kali bertemu saya, bukan hendak melantunkan Tembang Suluk Pesisir, tetapi seingat saya mau mendiskusikan sesuatu, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tembang Suluk Pesisir. Tetapi, hanya dalam waktu kurang dari satu jam, sejak pertemuan kita itu, Mbak Ayu sudah mencoba untuk melantunkan Tembang Suluk Pesisir bersama saya. Dan sejak itulah, saya selalu berdua dengan Mbak Ayu, dalam mendukung berbagai pagelaran yang dilakukan PSTK-ITB. Beberapa waktu kemudian, sejumlah anggota PSTK-ITB bergabung dalam kelompok kecil Tembang Suluk Pesisir.
Orang ke-tiga, yang juga saya hubungi, adalah Mbak Bunga Dessri Nur Ghaliyah, seorang alumnus Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI), Bandung, Program Studi Karawitan Sunda. Ia, amat sangat mahir memainkan Rebab Sunda, Terompet Pencak, Kendhang, dan Tarawangsa. Dia juga sudah membuktikan dirinya bisa 'ngawih' (nembang). Ada bukti rekaman videonya, yang diunggah di youtube, saat ia melantunkan Tembang Suluk Mantra Manyura, vokalnya sama sekali tidak terasa bahwa ia adalah seorang yang berasal dari Tanah Para-Hyangan (Tanah Sunda). Entah bagaimana, ia bisa menyuarakan tembang itu dengan lantunan suara khas Jawa. Luar biasa.
Pada pagelaran resital karawitan wayangan ini, Mbak Bunga akan memainkan Ricikan Rebab, tetapi tetap dalam gaya Sunda yang sangat khas. Mbak Bunga, saya mengenalnya pertama kali justru saat ia masih menjadi mahasiswi ISBI, belum lulus. Saat penampilannya dulu, yaitu pada waktu pelaksanaan Sidang Sarjana, saya menyaksikan. Luar biasa. Dan saya menyempatkan diri mengabadikannya dalam sejumlah foto.
Orang ke-empat, sama sekali tak diduga. Ia adalah Mbak Winda Ayu Ghaniyah, sahabat Mbak Bunga, bersama-sama dalam kelompok Puspa Karima, dari Sumedang. Juga alumni ISBI, Bandung. Saya beberapa kali melihat Mbak Winda, dalam rekaman video yang diterbitkan Puspa Karima, dan diunggah di youtube, ia memainkan Ricikan Gambang Kayu; atau, sesekali juga memainkan Ricikan Kecer yang suaranya ringan. Keduanya, dalam gaya Sunda. Karena di PSTK-ITB tersedia dua ricikan Gambang Kayu, maka saya ingin menampikan Mbak Winda berpasangan, bersama dengan Mas Ozil. Masing-masing memainkan Ricikan Gambang Kayu, dengan gaya masing-masing, Jawa dan Sunda. Tetapi, dalamn perjalanan selanjutnya, ternyata gamelan yang akan digunakan berbeda, dan hanya ada satu ricikan Gambang Kayu. Karenanya, kemudian saya putuskan untuk memainkannya bergantian saja. Tetapi, akhirnya Mbak Winda ternyata memilih memainkan Ricikan Kecer Wayang.
Tentang Ricikan Kecer Wayang ini, di PSTK-ITB ada sebuah Ricikan Kecer Wayang berbahan logam Perunggu Wulung, tetapi menurut saya suaranya tak bagus, karena lempeng logamnya terlampau tebal. Sementara saya, pada sekitar tahun 1980-an, 43 tahun yang lampau, saat melakukan survei lapangan, dalam rangka penyusunan skripsi saya, yang berjudul 'Gamelan Jawa', pernah mendokumentasikan suatu pagelaran wayang kulit purwa Gaya Pesisir, yang dilakukan justru di suatu wilayah pegunungan, agak jauh di sebelah timur-laut Kota Sala-Tiga, yakni di Desa Dhadhap-Ayam.
Pagelaran wayang kulit purwa itu dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan upacara ritual adat-tradisional 'Bersih Desa'. Pagelaran itu dipimpin oleh seorang 'dhalang tiban', yaitu seorang 'dhalang' yang menurut penjelasan sejumlah penduduk yang saya wawancarai, sehari-harinya adalah seorang petani. Ia hanya 'men-dhalang' sekali setahun, yakni hanya pada pelaksanaan upacara ritual adat-tradisional 'Bersih Desa' saja. Menurut para penduduk desa itu, dhalang yang malam itu memimpin pagelaran wayang kulit purwa Gaya Pesisir, tidak pernah belajar memainkan wayang, tidak punya guru dhalang lain, tidak pernah terlihat berlatih 'sabetan' (memainkan wayang). Karenanya, lalu disebut 'dhalang tiban', yaitu seseorang yang secara tiba-tiba saja bisa berperan sebagai dhalang. Seperti jatuh dari langit saja. Istilah 'tiban', artinya: jatuh, jatuh dari atas, jatuh dari langit.
Pada pagelaran wayang kulit purwa itulah, saya melihat ada seorang pesindhen (belakangan dari Pak Lurah, saya mengetahui bahwa ia adalah seorang janda kembang), yang memainkan 'sesuatu', yang suaranya mirip Kecer Wayang. Setelah saya perhatikan, ternyata pesindhen itu memainkan gabungan antara piring kaca atau piring keramik, dengan sendok dan garpu. Suara yang ditimbulkan bagus banget, ringan dan gemerincing; persis suara Ricikan Kecer Wayang, yang logamnya tipis. Pada saat itulah, saya meminta supaya Mbak pesindhen itu mengajari saya, memainkan 'kecer wayang tiruan' itu. Pagelaran wayang kulit purwa itu masih berlangsung, dan di antara bunyi gamelan yang bertalu-talu, Mbak pesindhen itu, sibuk mengajari saya bagaimana memainkan Ricikan Kecer Wayang Tiruan itu. Dan, sejak saat itu, saya bisa memainkan Ricikan Kecer Wayang Tiruan, yang dibuat dari piring kaca atau piring keramik, serta sendok dan garpu.
Beberapa hari sebelum pertemuan dengan Mbak Winda, saya sengaja memilih dan membeli dua buah piring, yang berbeda ukuran garis-tengahnya, sehingga menghasilkan bunyi yang berbeda nadanya. Piring keramik, yang ukuran garis-tengahnya lebih kecil, menghasilkan nada yang sedikit lebih tinggi. Sewaktu memilih piring-piring itu, Mbak penjaga toko, sampai terheran-heran melihat apa yang saya lakukan. Beberapa kali saya mengetuk sisi piring itu, untuk mendengarkan bunyi dentingnya. Agak lama juga saya melakukan, sampai akhirnya saya pilih dua buah piring yang sedikit berbeda ukuran garis-tengahnya. Mbak penjaga toko yang masih juga terheran-heran itu melihat saja kepada saya. Mungkin ia memikirkan, untuk apa saya membeli dua buah piring yang berbeda ukuran garis-tengahnya. Saya melenggang saja, sambil tersenyum gembira kepadanya.
Saat bertemu Mbak Winda, yang ternyata lebih memilih memainkan Ricikan Kecer Wayang, saya minta mencoba lebih dahulu ricikan Kecer Wayang yang asli, yang lempeng nadanya dibuat dari logam Perunggu Wulung. Mbak Winda ternyata berpendapat sama dengan saya, tak bisa menghasilkan suara kecer yang bagus. Lalu, kepada Mbak Winda saya tawarkan untuk memainkan Ricikan Kecer Wayang Tiruan yang dibuat dari sebuah piring, serta sendok dan garpu. Saat itu, saya melihat Mbak Winda melihat heran kepada saya, sambil bertanya: "Bagaimana memainkannya?" Saya, lalu mengambil salah satu piring itu, dan mengambil sendok dan garpu.
Sesaat kemudian, saya memainkannya, persis seperti saat saya memainkannya pertama kali, 43 tahun yang lalu. Suaranya bersih, ringan, gemerincing, dengan nada yang relatif agak tinggi. Lalu, piring beserta sendok dan garpunya saya sodorkan kepada Mbak Winda. Dalam waktu tak terlalu lama, ternyata Mbak Winda sudah bisa menguasai dan bisa memainkannya. Suaranya bagus banget. Sesaat kemudian, kita berdua mendiskusikan bagaimana sebaiknya memainkannya. Dan, kita berdua akhirnya berkesimpulan, bahwa suara yang bagus, bisa dihasilkan jika sendok dan garpunya dimainkan tidak di tengah piring keramik itu, melainkan agak ke sisi pinggir. Selain itu, antara menggunakan pasangan sendok dan garpu; dan menggunakan dua buah sendok; ternyata suaranya jauh lebih bagus, jika menggunakan dua buah sendok yang sama.
"Saya akan memainkannya memakai piring dan kedua sendok itu...," begitu kata Mbak Winda sambil tersenyum, dan beberapa kali mengatakan: "Ini sesuatu yang luar biasa..." Kecer Wayang itu, rupanya memberikan suatu inspirasi kepada Mbak Winda. Entah inspirasi apa, belum jelas benar. Begitulah kisah Ricikan Kecer Wayang yang pada pagelaran resital karawitan wayangan itu memberikan warna tersendiri, yang tak ada duanya. Karena selama ini, pagelaran karawitan yang manapun, tak pernah ada yang menggunakan Ricikan Kecer Wayang, apalagi menggunakan Ricikan Kecer Wayang Tiruan. Padahal Ricikan Kecer Wayang sebenarnya merupakan ricikan kuna, yang sudah ada dan sudah digunakan orang sebagai pengiring pagelaran wayang kulit purwa, sejak dahulu kala. Jadi, ini merupakan keunikan yang tak ada duanya. Dan, sekaligus juga merupakan upaya untuk menghidupkan sesuatu yang sudah terkubur ratusan tahun.
Orang ke-lima yang saya hubungi adalah Mas Iskandar Sumowiloto, yang tinggal di Desa Sudi-Mara, Ci-Longok, sekitar 20 kilo-meter ke sebelah utara; atau, tepatnya ke arah barat-daya dari Kota Purwa-Kerta. Sahabat lama saya yang satu ini, kecanggihannya adalah bisa memainkan Ricikan Suling secara sangat bagus, dan khas wayangan. Ia, juga merupakan seorang pembuat Ricikan Suling yang bagus. Selain itu, ia juga seorang dhalang wayang kulit purwa. Ia juga anggota lama PSTK-ITB. Kalau tidak salah, ia adalah angkatan 77 di ITB. Tetapi, kemudian ia meneruskan pendidikannya di UT (Universitas Terbuka), dan mengambil Jurusan Stater (Jurusan Statistik Terapan). Merupakan tokoh yang sangat penggembira, lucu, humoris, penuh lawakan, banyak gagasannya, rasional, dan selalu berpikir positif dalam menghadapi berbagai peristiwa. Sebenarnya, ia sudah membeli tiket untuk naik kereta-api dari Purwa-Kerta ke Bandung; guna ikut meramaikan pagelaran wayang di Aula Barat ITB. Tetapi, tiba-tiba saja ia jatuh sakit, dan harus dirawat di rumah sakit, ternyata perlu dioperasi...! Maka batallah permainan Ricikan Suling yang saya mimpikan. Tak apalah. Yang terpenting Mas Iskandar sehat kembali. Hal itu, jauh lebih penting dari-pada sekedar memainkan Ricikan Suling.
Orang ke-enam yang saya hubungi, adalah Mas Ozil atau nama lengkapnya Mas Fajar Nurrohman. Ia tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Beberapa tahun, selama ia menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Teknik Lingkungan, ITB, ia bergabung dalam kelompok Tembang Suluk Pesisir. Ia spesialis memainkan Gambang Kayu. Saya sangat suka, saat ia dengan bunyi Ricikan Gambang Kayu-nya, yang khas wayangan, mengiringi lantunan Tembang Suluk Pesisir. Orangnya agak pendiam, dan agak misterius. Diselimuti berbagai rahasia terselubung. Tetapi, sebenarnya Mas Ozil ini merupakan sahabat yang menyenangkan. Kemarin itu, sebenarnya ia hendak dipasangkan dengan Mbak Winda, yang memainkan Gambang Kayu versi Sunda; sedangkan Mas Ozil memainkan Gambang Kayu versi Jawa. Tetapi, ternyata batal, karena gamelan yang digunakan berbeda, dan hanya mempunyai satu ricikan Gambang Kayu. Hari Sabtu, 19 Agustus 2023, Mas Ozil, sudah standby di Bandung, sejak sekitar pukul 03:00 pagi. Kereta-apinya sampai di Stasiun Bandung jam segitu. Sekitar jam 10:00 pagi, ia sudah standby di dekat RLB, untuk ikut latihan.
Orang ke-tujuh yang saya hubungi, adalah Mas Imung, atau nama lengkapnya Mas Tripamungkas Kartika Adi. Ia sejak lama juga menjadi anggota kelompok Tembang Suluk Pesisir, dan merupakan pemain kendhang, khususnya kendhang wayang. Pola kendhang-nya mirip dengan saya. Ia menguasai salah satu versi kendhangan khas wayangan, yang disebut Kendhangan Kagok Madura. Tetapi, seperti yang lainnya, ia selama nyaris tiga tahun, tak pernah memegang ricikan gamelan, termasuk kendhang. Jadi, kemungkinan untuk terlupa, bisa saja terjadi. Dari Mas Imung ini, saya memperoleh kepastian keikut-sertaan Mbak Suri, Mas Aditya, dan Mbak Towel.
Orang ke-delapan yang saya hubungi, berdasar informasi dari Mas Imung, adalah Mas Aditya. Ia sejak lama juga menjadi anggota kelompok Tembang Suluk Pesisir, dan juga merupakan pemain kendhang, khususnya kendhang wayang, tetapi versi yang lebih halus permainannya. Selain itu, sudah sejak lama ia menyukai memainkan Ricikan Gender Panerus, yang memang cenderung tidak ada yang memainkannya. Mas Aditya termasuk pemerhati tembang sulukan. Di youtube ada sejumlah unggahan Mas Aditya, yang berkait-erat dengan syair dan tembang suluk pedhalangan, khususnya yang sering dibawakan oleh Ki Narto Sabdho almarhum. Ia juga membuat link 'gamelan virtual', yang bisa dimainkan menggunakan komputer. Mas Aditya sekarang bekerja dan tinggal di Jakarta. Dalam pagelaran resital karawitan wayangan nanti, ia akan memainkan Ricikan Gender Panerus. Ini yang sangat menyenangkan untuk dinantikan....
Orang ke-sembilan yang saya hubungi, juga berdasar informasi dari Mas Imung, adalah Mbak Suri; atau, lengkapnya Mbak Sri Wahyuningsih. Ia dulunya mahasiswi dari Program Studi Kria Textil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB. Urusannya sudah tentu berhubungan dengan kain, mode pakaian, ragam-hias textil, serta berbagai hal yang berkait-erat dengan textil. Ia sejak lama juga menjadi anggota kelompok Tembang Suluk Pesisir, dan merupakan pelantun Tembang Suluk Pesisir yang tangguh. Ia juga seorang penari tradisional Jawa. Mbak Suri sekarang bekerja dan tinggal di Jakarta.
Orang ke-sepuluh yang saya hubungi, juga berdasar informasi dari Mas Imung, adalah Mas Deni Kartika. Ia, spesialisasinya adalah memainkan Ricikan Peking atau Ricikan Saron Panerus. Sekarang ia sedang meneruskan pendidikannya di Paska Sarjana ITB. Tabuhan Ricikan Saron Panerus yang dilakukannya, sangat akurat, konsisten, dan iramanya kontinyu; tak pernah terputus. Itu yang saya suka.
Lalu, ada Mas R. Bangun, yang merupakan suami Mbak Bunga. Ia biasanya menggarap persoalan video di kelompok seni Puspa Karima. Dari-pada hanya mengantar Mbak Bunga dan menunggu selama pagelaran berlangsung, ya sudah saja digabungkan ke dalam tim, sebagai pemegang mandat kamera video. Kebetulan Mas Bangun tak keberatan.
Satu orang lagi yang saya hubungi, adalah Mbak Towel, atau Mbak Alivia Nurlita. Ia yang sewaktu masih kuliah dulu, sebelum lulus, suaranya 'cuwawakan' (suka berteriak-teriak keras banget), dan hanya punya satu pesaing, yaitu Mbak Ale. Badannya ramping, kecil lucu, dan ya itu dia 'cuwawakan'. Tapi sekarang, ternyata sudah sangat berubah. Sudah menjadi anggun, dan badannya juga sudah mulai berisi, pertanda kehidupannya sudah mulai memanjakan dirinya. Ia dipasang sebagai operator kamera foto kecil, merangkap pengatur gaya, jika diperlukan.
Sebenarnya ada satu orang lagi yang semula berperan sebagai 'asisten pengatur gaya', yaitu Mas Surya Putra. Tetapi kemudian dipindahkan menjadi pemain Ricikan Bonang Panerus. Tetapi, sayangnya pada hari pagelaran, Mas Surya ini sebenarnya sudah datang, tetapi tak datang sebelum pagelaran dimulai, sehingga ia enggan naik ke panggung. Padahal, kalau mau sih, naik saja ke panggung.
Begitulah kisah para anggota 'satbanpur' (satuan bantuan tempur), yang dikerahkan untuk memperkuat kelompok pendukung resital karawitan wayangan. Semuanya bersikap saling mendukung, supaya pagelaran bisa berjalan lancar dan bagus.
Akhirnya, lengkaplah seluruh anggota Wira Pradangga yang diperlukan untuk melaksanakan pagelaran resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir. Selain pada anggota PSTK-ITB, ada Mbak Bunga, Mbak Winda, Mas R Bangun, Mas Deni Kartika, Mas Lukman Samboja, Mbak Angelia, dan Mbak Ayu 'Kuke' Wulandari.
Bagaimanapun juga, upaya untuk menyatukan semua potensi itu, tak bisa dilakukan sepenuhnya, karena berbagai hal. Misalnya, Mas Imung, sejak awal sudah menyatakan, akan datang tepat pada hari pagelaran, dan ini akan merupakan persoalan tersendiri, karena ia tak akan punya kesempatan untuk 'main bareng' sebelum naik panggung pagelaran. Jadi, para wira-pradangga tak akan sempat berkenalan dengan gaya permainan kendhang wayang Mas Imung. Kepada seluruh peserta, saya sudah mengatakan, bahwa secara umum, pola kendhang wayangan Mas Imung tak jauh berbeda dengan pola kendhang wayangan saya. Tetapi, tentu saja Mas Imung bukan saya. Dan masing-masing, pastilah mempunyai gaya dan kesukaan sendiri.
Bunyi gong dan kenong yang mencengangkan
Pada hari-hari latihan yang awal, sudah barang tentu materi pertama yang harus dikuasai, adalah mengiringi Tembang Suluk Pesisir. Pada karawitan wayangan Gaya Pesisir, lazimnya tembang dan suluk dhalang, nyaris setiap akhir baris syair tembang-nya, yang jatuh pada nada 1, 2, dan 6; selalu dilengkapi dengan bunyi 'Gong Suwukan' atau 'Gong Ageng', yang nadanya sesuai. Selain itu, dengan pola tabuhan yang disengaja di-tabuh agak terlambat, juga dibunyikan Ricikan Kenong, sesuai dengan nada suara pelantun tembang suluk-nya.
Tentang hal ini, juga saya informasikan kepada Mas Fandy sebagai wira-pradangga yang bertugas memainkan Kempul dan Gong. Juga kepada Mas Wigrha, yang bertuga memainkan Ricikan Kethuk dan Ricikan Kenong. Mereka, keduanya, menyatakan belum pernah memainkan ricikan masing-masing. Tetapi, rupanya keduanya sudah memahami apa yang saya beri-tahukan. Lalu, terjadilah, apa yang menjadikan saya tercengang...! Yaitu, sewaktu untuk pertama kali, saya mendengar tabuhan mereka berdua, ternyata sudah sangat baik, sesuai dengan yang dikehendaki. Dan, juga menampilkan seakan-akan tabuhan mereka berdua dilakukan oleh wira-pradangga profesional saja layaknya. Karena saya agak ragu, maka saya mengulanginya beberapa kali, juga dengan tembang suluk lainnya. Hasilnya sama. Semua bisa dilaksanakan secara sangat baik. Ini semua, benar-benar berada di luar perkiraan saya.
Karenanya, kepada keduanya saya memuji secara terbuka, tentang keberhasilan mereka berdua menjalankan perannya. Tetapi, sejumlah sahabat mereka berdua protes kepada saya, dan mengatakan: "Jangan dipuji Pak..., nanti dia bikin kesalahan loh.." Mendengar celotehan sahabat-sahabatnya itu, saya hanya tertawa saja. Menurut saya, kalau mereka berdua memang sudah memahami, kecil kemungkinannya mereka akan membuat kesalahan. Jadi, sejauh ini, bisa saya simpulkan, bahwa untuk mengiringi Tembang Suluk Pesisir, mereka berdua, saya katakan sudah 'lolos tanpa syarat'.
Notasi gendhing yang sederhana dan berulang itu sebenarnya sulit
Ya memang begitulah kenyataannya. Notasi gendhing yang sederhana, sama angka-angkanya, dan berulang; biasanya bisa membuat penabuh-nya jadi kehilangan orientasi, sudah sampai mana tabuhan-nya. Begitu juga dengan notasi Gendhing Ladrang Dwi-Rada-Meta, yang angka notasinya sama dan berulang. Jangankan orang yang sedang dalam tahap belajar menabuh gamelan, orang yang sudah menjadi wira-pradangga profesional saja, bisa membuat kesalahan juga. Jadi, jangan main-main dengan notasi gendhing yang sangat sederhana, tetapi berulang.
Suwuk sesegan yang membuat kalang-kabut
Menghentikan permainan suatu gendhing tertentu, bisa saja dilakukan secara 'baik-baik dan sopan', yakni dilakukan secara perlahan-lahan, tidak terburu-buru. Tetapi, untuk keperluan tertentu, pada permainan karawitan wayangan, menghentikan permainan suatu gendhing, bisa saja dilakukan dalam pola 'sesegan' atau 'gropak'. Yakni dilakukan dalam kecepatan yang sangat tinggi, dan tiba-tiba. Nah, ini merupakan 'test case' pertama, selepas memainkan suatu gendhing dalam pola yang perlahan, 'luruh' (pelan membunyikannya), atau bahkan 'sirep' (amat sangat pelan membunyikannya); lalu tiba-tiba saja laya permainannya dipercepat secara sangat extrim, dan pada saat kecepatan dinaikkan sampai maximum, permainan tiba-tiba dihentikan, pada saat tabuhan menghasilkan suara yang amat sangat keras, atau disebut 'tabuh sora'.Ini merupakan bagian paling awal dari pagelaran yang harus dikuasai, dan harus bisa dilakukan. Kalau kurva respon kecepatan permainannya ditampilkan, maka kurvanya tidak lurus, tidak linier, melainkan kurvanya naik secara logaritmis, sedemikian rupa, sehingga menunjukkan bahwa kecepatan permainannya dalam waktu yang amat singkat meningkat tajam, lalu tiba-tiba berhenti. Permainan karawitan wayangan seperti ini, merupakan tampilan pertama, yang harus dikuasai.
Bermain lembut itu maha sukar
Salah satu materi yang hendak ditampilkan, memang menghendaki kebalikan dari permainan karawitan wayangan yang sebelumnya dijadikan 'test case'. Dimulai dengan lantunan Tembang Suluk Sendhon Tlutur yang mengharu-biru, sendu, dan bisa membuat pendengarnya menangis, lalu dilanjutkan dengan permainan Srepegan Tlutur Laras Slendro Pathet Manyura, yang dimainkan dalam pola 'sirep' (amat sangat pelan), lambat, dan penuh penghayatan. Begitulah semestinya, karena memang seperti itulah suasana yang dikehendaki. Tetapi, soal memainkan gamelan dengan pola nada yang pelan, lembut, dan penuh perasaan, itu bukan soal yang mudah. Apalagi, jika yang memainkannya masih muda, dan baru belajar memainkan ricikan gamelan.
Soal 'merasakan' (Inggris: how to feel), itu sebenarnya merupakan bagian dari pengolahan perasaan, yang harus dikuasai oleh para wira-pradangga. Jangankan menabuh dengan penuh perasaan dan penuh penghayatan, membunyikan ricikan gamelan dengan suara pelan saja kenyataannya merupakan sesuatu yang maha sukar dilakukan. Yang jauh lebih sukar lagi, adalah membunyikan ricikan gamelan dalam pola yang amat sangat pelan, atau 'sirep'; dan, dilakukan dalam moda kecepatan permainan yang sangat lambat, atau 'tamban'. Ini maha sukar. Tetapi salah satu materi yang hendak ditampilkan, memang direncanakan seperti itu. Paling tidak, sebagai upaya untuk selalu menggunakan 'perasaan dan penghayatan' saat memainkan ricikan gamelan.
Sajian ke-dua, secara khusus, memang direncanakan untuk mengexploitasi kemampuan untuk melakukan permainan khas karawitan wayangan, yang menerapkan pola lembut, bersuara sangat pelan, atau lazim disebut 'sirep', penuh perasaan, dan penuh penghayatan. Bagian ini, pada setiap pagelaran wayang kulit purwa, lazimnya diperlukan untuk mengiringi adegan 'janturan', yakni saat dhalang sedang menceritakan atau sedang berkisah tentang situasi atau kondisi tertentu. Bukan saat melakukan dialog, yang lazim disebut 'anta-wacana'.
Kendhang Kosek Wayangan dan Kagok Madura
Salah satu kekhasan permainan karawitan wayangan, adalah digunakannya pola permainan Ricikan Kendhang, yang lazim disebut 'Kosek Wayangan'. Ini merupakan pola permainan kendhang, yang hanya dikenal pada permainan Karawitan Wayangan, dan biasanya tak digunakan pada permainan karawitan lain, misalnya pada pola Karawitan Klenengan. Pola permainan kendhang 'Kosek Wayangan', menghasilkan suara yang cenderung menghentak-hentak, dan bunyi suara kendhang-nya, dalam istilah bahasa Jawa, disebut 'nyengkal-nyengkal'. Dalam pemahaman, bolehlah istilah 'nyengkal-nyengkal' itu diartikan sebagai 'tidak tepat pada ketukan'. Orang yang sedang dalam tahap belajar memainkan ricikan gamelan, biasanya akan menjadi bingung, dan cenderung rusak irama permainannya, saat mendengar tabuhan kendhang yang menerapkan pola 'Kosek Wayangan'.
Pola permainan kendhang lain yang juga bisa dikatakan khas wayangan, adalah pola permainan kendhang yang disebut 'Kagok Madura'. Biasanya, pola permainan kendhang ini, digunakan untuk mengiringi permainan gendhing ladrang khas, yang dimainkan dalam moda irama cepat, atau 'laya seseg', yang seperti telah dijelaskan di awal bahasan, bisa berakhir dengan berhenti secara tiba-tiba, atau disebut 'suwuk sesegan' atau 'suwuk gropak'. Meskipun khas dan dalam kecepatan tinggi, juga bisa merepotkan para wira-pradangga; tetapi tingkat kesulitannya, bisa dikatakan di bawah pola permainan kendhang 'Kosek Wayangan'.
Sajian ke-tiga, dan ke-empat; memang dirancang untuk menggunakan pola permainan Kendhang Kosek Wayangan. Sedangkan sajian ke-satu (pertama), dirancang menggunakan pola permainan kendhang khas 'Kagok Madura'.

Tetap bergembira itu perlu, meskipun mungkin badan lelah, karena seharian berlatih, sejak pagi hari, sampai sore hari. Ini, adalah foto sesaat, di depan ruang sekretariat PSTK-ITB, sebelum kita bubaran untuk pulang.
Pola permainan karawitan wayangan yang paling sukar
Sudah barang tentu, yang dimaksud 'paling sukar' adalah bagi para wira-pradangga yang sedang dalam tahap belajar melakukan permainan karawitan wayangan. Dalam hal ini, yang dimaksud, adalah saat memainkan Gendhing Talu Wayangan, yang merupakan sajian ke-empat. Dari empat sajian yang direncanakan, sajian ke-empat ini, boleh dikatakan yang paling tinggi tingkat kesulitannya, dan paling berisiko; terutama bagi para wira-pradangga yang sedang dalam tahap belajar memainkan karawitan wayangan.
Bagian tersukar dari sajian ke-empat ini, adalah saat dilakukan pola permainan yang berkecepatan tinggi, saat harus dilakukan perpindahan dari gendhing yang satu, ke gendhing lain, dan saat harus melakukan prosedur penghentian permainan; atau, saat melakukan proses mengakhiri permainan Gendhing Talu Wayangan, yang pola kecepatannya tiba-tiba berubah, dari amat sangat cepat, seketika berubah menjadi lambat, dan menggunakan pola tertentu. Ini akan merupakan 'test case' terakhir. Dan, memainkan Gendhing Talu Wayangan, suka atau tidak suka, akan selalu dimainkan, sesaat sebelum pagelaran wayang kulit purwa hendak dimulai.

Tak hanya perang yang memerlukan dukungan logistik bagus. Latihan karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir, yang dilakukan sehari suntuk, juga memerlukan dukungan logistik yang bagus. Maka, Warung Sedap Malam, yang setelah sebelumnya digusur, sekarang lokasinya pindah ke sebelah Taman Ganesa; warung ini merupakan langganan lama, dan merupakan salah satu 'pusat bantuan logistik' yang penting. Pak Gisin, pemiliknya, lengkap dengan senyum khasnya, dan dengan cekatan, bisa membuat kita semua bisa gembira kembali, setelah melepaskan rasa lapar yang mendera.
Ringkasnya, permainan Gendhing Talu Wayangan, sebenarnya seluruh rangkaian gendhing-nya, menceritakan perjalanan manusia, sejak ia 'belum ada', atau saat masih berada dalam impian imajinasi orang-tua mereka, sampai manusia yang menjadi pelaku sejarahnya itu, kembali 'tidak ada'. Jadi, Gendhing Talu Wayangan, mengingatkan kita sebagai manusia, tentang sejarah hidup kita sendiri. Sementara pagelaran wayang kulit purwa yang hendak ditampilkan semalam suntuk; atau, sehari suntuk itu, sebenarnya hanyalah sepenggal kisah, yang dialami manusia, saat ia hidup di alam jana-loka, yang digambarkan amat sangat pendek waktunya. Panjang waktu kisah yang terjadi pada manusia itu, dilambangkan hanya sebesar warna hitam ujung kuku jari tangan, dibandingkan dengan panjang kisah hidup manusia sebagai pelaku sejarah kehidupannya. Setiap gendhing, dari seluruh Gendhing Talu Wayangan, yang dimainkan oleh para wira-pradangga, sebenarnya mengandung suatu falsafah kehidupan tertentu, yang berkisah tentang fasa dan masa kehidupan manusia, saat ia menempuh kehidupannya di alam jana-loka.
Hari pagelaran yang semarak. Semuanya naik panggung. Tak ada yang ditinggalkan. Begitulah motto yang dipegang, 'No One Left Behind' (tak ada yang ditinggalkan di belakang). Baik atau buruk, semuanya akan ditanggung bersama dan dirasakan bersama-sama.
Sajian resital karawitan wayangan
Empat sajian karawitan wayangan, yang ditampilkan dalam bentuk resital ini, masing-masing mempunyai kisahnya sendiri.
Sajian ke-satu
Hari masih gelap. Ketika cahaya mata-hari samar-samar tampak merah membara, jauh di ufuk timur. Burung Manyura mengepakkan sayap, terbang menuju tebaran hamparan padi yang menguning. Rampak Tembang Mantra Manyura, terdengar sayup-sayup, menyajikan doa permohonan manusia kepada Gusti Allah, sang penguasa jagat raya; agar keinginan kita, dan apa yang kita mimpikan; berkenan dikabulkan.
Lalu, sebuah gendhing khas wayangan, Ladrang Dwi-Rada-Meta, Laras Slendro Pathet Manyura dimainkan, mengikuti Tembang Suluk Mantra Manyura. Tak dimainkan penuh, melainkan hanya bagian awalnya. Gendhing khas wayangan ini, menutup permainannya, menggunakan pola ‘sesegan’, atau pola ‘gropak’, yang juga khas wayangan.
Sajian pertama ini, diakhiri dengan rampak tembang, menampilkan Tembang Suluk Pathet Manyura Jugag, yang berkisah tentang manusia, saat jiwanya telah menerima pencerahan dari Gusti Allah.
Sajian ke-dua
Persahabatan, bisa berlangsung sampai akhir hayat. Tetapi perpisahan, tak pernah bisa dihindari. Takdir manusia, memang seperti itu. Dan, sajian ini, merupakan bagian dari pengingat persahabatan kita, dengan dua orang sahabat lama kita, yang telah mendahului kita semua; yaitu Mas Hoetomo DW almarhum, serta Mas Edi Winarno almarhum. Mereka berdua, sudah kembali ke haribaan Gusti Allah, sang pemilik seluruh jagat raya.
Dalam kesunyian suasana, Tembang Sendhon Tlutur Ngelik, Pathet Manyura yang sendu, secara khusus, ditampilkan oleh Mbak Ayu ‘Kuke’ Wulandari. Lalu, diikuti dengan satu rambahan tabuh ‘Srepegan Tlutur’ Pathet Manyura, dalam irama yang lambat, sirep, haru, dan penuh sendu; dibunyikan perlahan.
Pada akhir sajian, lalu, dikumandangkanlah sebuah rampak tembang, ‘Sendhon Suksma Anyabrang’, yang mengisahkan perjalanan jiwa manusia, saat menyeberang ke alam yang langgeng dan abadi.
Sajian ke-tiga
Sajian berikut ini, merupakan sajian khas wayangan, yang sudah amat sangat jarang dimainkan, bahkan oleh para Wira-Pradangga yang berkelas profesional sekalipun.
Dimulai dengan rampak tembang ‘Ada-Ada Greget Saut Manyura’, yang mengawali ujung terbit mata-hari pagi, dilanjutkan dengan dimainkannya Gendhing Ayak-Ayak Manyura, dalam laya tanggung, khas wayangan. Permainannya, diakhiri menggunakan pola ‘suwuk luruh’.
Sajian ke-empat
Sajian terakhir ini, merupakan penutup gelar resital karawitan wayangan, yang dilakukan oleh para anggota baru PSTK-ITB, serta sejumlah alumni ITB, dan alumni ISBI Bandung. Menyajikan gendhing khas wayangan, yang lazim digunakan sebagai pembuka sebuah pagelaran wayang kulit purwa, yaitu ‘Gendhing Talu Wayangan’.
Diawali rampak tembang, ‘Ada-Ada Durma’. Berkisah tentang gemuruh Perang Barata-Yuda, yang penuh darah, derai air-mata, dan kematian. Dimainkan dalam versi pendek dan ringkas, tetapi lengkap. Menerapkan pola laya tanggung, dan laya sesegan; meliputi: Ayak-Ayak Manyura Talu, Srepegan Manyura Talu, dan diakhiri dengan Sampak Manyura Talu.
Hanya berlatih delapan kali
Ini merupakan kenyataan yang tak bisa dihindari, yaitu waktu berlatih yang sangat pendek, dan sebenarnya juga nyarius tak masuk akal. Jika diperhitungan sejak awal, sampai dengan hari pagelaran, yaitu pada hari Minggu, tanggal 20 Agustus 2023; maka hanya bisa dilakukan latihan sebanyak delapan kali. Itupun, sudah dengan menambah hari latihannya menjadi hari Sabtu dan Minggu. Hari lain, tak bisa dilakukan, karena kebanyakan para anggota PSTK-ITB sudah punya berbagai kegiatan lain, yang juga menyita waktu. Begitulah yang terjadi. Delapan kali latihan, dimulai dari pertengahan bulan Juli 2023, sampai pertengah bulan Agustus 2023.
Bahkan, pada malam hari, menjelang hari pagelaran, yaitu hari Minggu tanggal 20 Agustus 2023 itu, pada hari Sabtu malam, tanggal 19 Agustus 2023; semuanya masih berantakan. Karenanya, para Wira Pradangga, meminta untuk melakukan latihan malam, yang dilakukan di Gedung Aula Barat ITB. Jadi, kalau latihan malam ini ikut dihitung, maka seluruh latihan adalah sembilan kali. Delapan kali latihan rutin, ditambah satu kali latihan khusus, yang dilakukan beberapa menit menjelang tengah malam
Saya menyetujui, dengan catatan, latihan hanya dilakukan untuk gendhing-gendhing yang kritis dan berrisiko tinggi; serta tidak diperbolehkan membicarakan materi apapun, selama latihan berlangsung. Mengapa diberlakukan seperti itu? Penyebabnya, adalah materi-materi yang hendak ditampilkan itu, sebenarnya dirancang dan dipersiapkan, sedemikian rupa, sehingga diharapkan akan merupakan 'kejutan', bagi para penonton (audiens).
- Materinya, bukan materi pagelaran biasa, seperti klenengan misalnya. Tetapi, seluruh materinya, sangat unik, karena merupakan materi gabungan resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir; yang sebelumnya tak pernah ada yang menampilkannya.
- Materi pagelaran, ditampilkan dalam pola karawitan wayangan, yang tak biasa, karena pola permainannya, tak pernah ditemukan dimainkan oleh kebanyakan grup/kelompok seni Jawa manapun, paling tidak yang ada di Kota Bandung.
- Salah satu materi pagelaran-nya, secara khusus memang dirancang, untuk ditampilkan dalam rangka mengenang sahabat dan alumni ITB anggota lama PSTK-ITB yang baru saja meninggal, yaitu Mas Hoetomo DW dan Mas Edi Winarno.
Secara keseluruhan, 'rahasia' ini berhasil tak bocor ke mana-mana, sampai pada hari pagelaran; saat kisah-kisah itu, disampaikan kepada seluruh audiens, oleh Mbak Aura, yang pada pagi hari itu, bertugas sebagai 'pembaca narasi'.
Permainan yang tak optimal
Ya begitulah kenyataannya. Paling tidak menurut pendapat saya seperti itu. Ada dua hal penting, yang amat sangat mempengaruhi pagelaran waktu itu, yaitu:
- Waktu latihan yang sangat terbatas.
- Perangkat suara yang buruk.
Tentang yang pertama, secara umum sudah dijelaskan. Tetapi, selain itu, juga terjadi proses sinkronisasi yang tidak terlalu baik. Hal ini, sebenarnya bisa diatasi, jika semua peserta sempat melakukan sesi berlatih bersama. Sedangnya kenyataannya, sayangnya hal itu tidak bisa dilakukan. Jadi, hasil hari itu, sebenarnya merupakan hasil yang sudah bisa dikatakan optimal, mengingat waktu latihan yang amat sangat pendek, dan proses sinkrosisasi yang tidak bisa dilaksanakan.
Tentang yang kedua, yaitu mutu unjuk-kerja sistem penguat suara yang amat sangat buruk. Ini merupakan hal yang amat sangat saya sesalkan. Harap dicatat saja, bahwa Gedung Aula Barat ITB, bisa dikatakan sebagai gedung yang sistem akustiknya sangat bagus. Sama sekali tidak ada pantulan suara, dan redaman suara yang terjadi juga relatif rendah. Gedung Aula Barata ITB, sudah direnovasi secara lengkap, termasuk digarap sistem akustiknya. Artinya, dari segi gedung dan akustiknya, tak ada persoalan sama sekali.
Tetapi, persoalannya menjadi lain, saat seperangkat mixer dan sound system dipasang dan dioperasikan di dalam ruang Aula Barat ITB; seperti yang terjadi pada hari Minggu, tanggal 20 Agustus 2023.
Saya mendapat kesan yang amat sangat kuat, yaitu para teknisi atau personil yang bertanggung-jawab menangani sound system itu, sama sekali tidak kompeten, dan tak ada yang punya pengalaman menangani sistem suara untuk pagelaran wayang kulit purwa, yang mempunyai kerumitan tersendiri. Beberapa hal di bawah ini, patut diperhatikan.
- Tidak digunakan 'microphone stand' atau penyangga mikropon yang rendah. Semua microphone stand yang dipasang, adalah jenis microphone stand tinggi, yang digunakan untuk orang berbicara pada posisi berdiri. Penggunaan penyangga mikropon yang tinggi ini, selain tidak cocok, untuk pagelaran wayang kulit purwa, juga amat sangat mengganggu secara visual.
- Pengaturan level suara dari setiap mikropon amat sangat buruk. Cukup banyak mikropon yang saat diketuk, sama sekali tak terdengar bunyinya di lodspiker. Jadi, seperti memasang mikropon 'mati' saja, atau pengaturan levelnya sedemikian rendah, sehingga suaranya nyaris tak terdengar sama sekali.
- Selama pagelaran berlangsung, para Wira Pradangga sama sekali tak bisa mendengar suara yang berasal dari mikropon, karena tak ada sebuahpun 'monitor speaker' yang dipasang di sekeliling panggung pagelaran.
- Selama pagelaran berlangsung, beberapa kali terdengar suara denging yang amat sangat keras, yang merupakan akibat terjadinya fenomena 'feedback' yang amat sangat mengganggu. Terjadinya feedback ini, juga membuktikan bahwa pengaturan level suara mikropon tidak dilakukan secara baik.
- Sebelum pagelaran berlangsung, tidak dilakukan proses 'check sound', untuk mengatur level audio. Pada malam hari, sebelum hari pagelaran, saya sempat bertanya kepada salah seorang personel yang sedang memasang mikropon. Saya menanyakan, kapan akan dilakukan proses 'check sound'. Petugas itu menyatakan bahwa proses check sound sudah dilakukan. Saya bahkan sempat bertanya: "Kapan check sound itu dilakukan?" Dia menjawab: "Sudah tadi..." Padahal, saat saya menanyakannya, ricikan gamelan belum seluruhnya ditata. Dari peristiwa itu, saya punya kesimpulan seketika, yaitu perangkat sound system itu dioperasikan tanpa proses check sound sama sekali. Operatornya menjawab pertanyaan saya, asal jawab saja. Bagaimana seperangkat gamelan yang belum lengkap, dan tak ada penabuhnya; bisa dinyatakan sudah beres check sound-nya? Argumentasinya ngarang dan terlalu bodoh.
- Dan benar saja. Selama pagelaran berlangsung, mutu suara yang dihasilkan, benar-benar buruk. Contoh, suara Ricikan Gender Pambarung, Ricikan Gender Panerus, Ricikan Gender Panembung, serta Ricikan Gambang Kayu, nyaris tak terdengar suaranya sama sekali. Sementara, suara yang dihasilkan oleh mikropon untuk vokalis, terdengar tidak sama levelnya; yang satu amat sangat keras, sedangkan satunya lagi jauh lebih pelan suaranya.
Berdasar peristiwa tersebut, sebaiknya, seluruh teknisi dan personel yang terlibat dalam menangani perangkat sound system itu, termasuk sound engineer-nya (kalau ada), diberi pembekalan yang cukup memadai, juga diberi perlengkapan yang memadai, untuk melakukan tugasnya. Persoalan sound system untuk pagelaran wayang kulit purwa, yang melibatkan banyak mikropon, bukan hal yang mudah, dan bisa disepelekan begitu saja.
Sebagai catatan, peristiwa yang sama terjadi juga pada saat PSTK-ITB, dengan personel dan materi yang sama, harus tampil di Jatifest 2023, di Kampus ITB Jati-Nangor, pada tanggal 2 September 2023. Sound system yang dipasang, juga sama sekali tidak memenuhi syarat; karena tidak melakukan proses check sound lebih dahulu. Hasilnya, juga sama buruknya, dengan kondisi yang terjadi di Aula Barat ITB pada tanggal 20 Agustus 2023. Beberapa kali terjadi suara denging amat sangat keras, sebagai akibat terjadi feed back yang tak terkendali.
Bukan untuk mengiklankan. Tetapi, hal ini saya ungkapkan, karena saya sudah melihat sendiri faktanya, dan sekedar sebagai referensi saja. Sejauh yang saya ketahui, untuk keperluan pagelaran wayang kulit purwa, perangkat sound system lengkap yang jelas bagus unjuk-kerjanya, adalah yang dilakukan oleh tim kerjanya almarhum Pak Kondang, dari Bekasi. Tim sound system-nya benar-benar bersikap profesional, teliti, cermat, dan melakukan pemeriksaan level audio untuk setiap mikropon yang dipasang langsung di dekat setiap ricikan gamelan. Komunikasi antara teknisi yang mengatur kedudukan mikropon, dengan teknisi yang mengatur level audio, dilakukan menggunakan handy talky (HT). Seluruh proses pemasangan perangkat audio, mikropon, pemegang mikropon, kabel-kabel audio, perangkat penguat daya audio, lodspiker besar, sistem catu daya, termasuk berbagai kelengkapan tambahan lainnya, check sound, dan kepastian letak seluruh perangkat audio system-nya; bisa diselesaikan dalam waktu sekitar dua jam. Jauh, sebelum dimulainya pagelaran.
Pengaturan level audio mikropon, dilakukan bertahap, dan dibuat catatannya secara cermat, sebagai pengingat. Tahap ke-satu, dilakukan satu-per-satu dan dicatat secara cermat. Saat salah satu mikropon sedang diperiksa level audionya, mikropon lain dimatikan (Inggris: disable). Proses itu, dilakukan terhadap seluruh mikropon satu-per-satu. Tahap ke-dua, satu-per-satu mikropon diaktifkan, dan diperiksa levelnya secara teliti. Tahap ke-tiga, seluruh ricikan gamelan dimainkan, sementara seluruh mikropon dalam kondisi diaktifkan. Pada perangkat audio mixer, dilakukan pemeriksaan, secara teliti; dan dipastikan tidak ada mikropon yang levelnya kurang, atau berlebihan. Demikian pula pada saluran luarannya, dipantau, sehingga bisa dipastikan level audio yang dihasilkan tidak cacat (distorsi).
Pada kebanyakan kasus, level suara yang dihasilkan perangkat audio, biasanya tidak diperiksa polanya, tidak diperiksa pula levelnya. Sehingga, bahkan pada level audio yang relatif masih rendah, sebelum disalurkan ke perangkat penguat daya audio, sinyal audio sudah mengalami cacat (distorsi). Cacat yang paling sering terjadi, adalah 'levelnya berlebihan' (Inggris: over level). Akibatnya, pola gelombang sinyal audionya berubah, dari yang seharusnya berpola gelombang sinus, berubah menjadi cacat, dan cenderung berpola gelombang kotak (Inggris: square), atau setidak-tidaknya pada puncak-puncak pola gelombang audionya terpotong (Inggris: clip).
Untuk memastikan over level dan fenomena cacat ini tak terjadi, sebaiknya perangkat sound system dilengkapi dengan:
- Alat ukur 'Oscilloscope'. Alat ukur ini berguna untuk memantau dan memastikan, apakah bentuk pola gelombang yang dihasilkan dari perangkat sound mixer bagus, tidak cacat, dan berpola sinusoida. Gejala terjadinya puncak-puncak pola gelombang sinyal audio yang nyaris cacat misalnya, karena mendekati terpotong puncak gelombangnya, secara mudah bisa diamati.
- Alat ukur 'Audio Spectrum Analyzer'. Alat ukur ini, tidak bisa melihat apakah suatu sinyal audio cacat atau tidak; tetapi, bisa melihat level seluruh wilayah spektrum sinyal audio yang dihasilkan oleh perangkat audio mixer. Menggunakan alat ini, teknisi bisa memantau, level sinyal audio yang dihasilkan oleh setiap mikropon; dan bisa membandingkan level sinyal audio yang dihasilkan oleh setiap mikropon. Dengan demikian urusan audio leveling bisa dilakukan secara jauh lebih optimal, dan tidak berdasar 'perasaan' semata.
Bagaimanapun juga, pagelaran resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir, yang seluruh tampilannya hanya memakan waktu selama kira-kira 20 menit itu, telah dilakukan, dan nyatanya telah membuka mata seluruh penonton, bahwa PSTK-ITB memang berhasil dihidupkan kembali. Dan, sekarang mulai penuh dengan berbagai kegiatan kembali.
Beberapa Minggu selepas pagelaran itu, beberapa orang pegiat seni dan budaya di Kota Bandung, yang bertemu saya, mengatakan bahwa pagelaran itu, lepas dari berbagai kekurangan, yang lebih terasa sebagai persoalan teknis, membuat mereka menanyakan: "Kapan ada pagelaran seperti itu lagi...?" Sewaktu saya mendapat pertanyaan seperti itu, saya balik bertanya: "Memangnya kenapa? Kok seperti ingin mengulang pagelaran itu lagi...?" Jawabnya: "Sewaktu saya melihat pagelaran itu, semua kenangan lama saya, seperti hidup kembali. Semuanya seperti terbayang kembali. Semua yang kemarin digelar pada resital itu, sekarang tak pernah ada yang menampilkannya lagi...." Rupanya, ada semacam kerinduan, yang seperti tak bisa dibendung, dan ada pula semacam keinginan untuk bisa selalu menikmatinya kembali. Semua itu, berkisah tentang masa lalu, yang menurutnya, sekarang cenderung sudah hilang dan dilupakan orang.