22 September 2023

PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA DI TENGAH HUTAN RIMBA

 

Bram Palgunadi




Ini adalah kenangan indah saat saya masih anak-anak dan masih duduk di kelas 3 sampai kelas 6 Sekolah Rakyat (sekarang disebut Sekolah Dasar), di Kota Jember, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tahun 1962 – 1963. Di masa-masa yang saat itu dikenal dengan sebutan 'masa perebutan Irian Barat', atau oleh kalangan masyarakat umum sering juga disebut 'jaman Trikora'.[1]

Pada masa itu, ayah saya bekerja sebagai seorang ADM (administratur) PN Perhutani[2] di kantor KPH Jember.[3] Jika sedang masa liburan, saya seringkali ikut truk milik PN Perhutani ke hutan. Kebetulan kita tinggal di komples perumahan dinas PN Perhutani, yang lokasinya berhadapan dengan garasi dan bengkel PN Perhutani, yang lokasinya di Patrang, sedikit di sisi utara Kota Jember. Naik truk ke hutan, merupakan salah satu pengalaman yang menyenangkan saya. Biasanya truk-truk PN Perhutani itu berangkat pagi-pagi, sekitar jam 07.00 pagi Waktu Jawa (sekarang penyebutan waktu sudah diubah menjadi jam 07.00 Waktu Indonesia Barat atau WIB), dan pulang dari hutan sore hari. Pada masa itu, truk-truk tua yang dipakai umumnya bertonase sekitar 3,5 ton, merknya Chevrolet, Dodge, dan Fargo. Ketiga merk truk itu, buatan Amerika.

Pada masa itu, rute truk hutan yang paling saya sukai, adalah yang menuju hutan di sekitar Sempolan atau Garahan, yakni ke arah timur, di jalan raya yang menuju Kota Banyu-Wangi. Selewat kota kecil Kali-Sat, truk akan menuju Sempolan dan akhirnya berbelok ke kiri, memasuki jalan hutan. Sebelum masuk jalan hutan, truk-truk itu biasanya berhenti, untuk melapor lebih dahulu di kantor ‘kemantren’atau kantor KRPH (Kesatuan Resor Pemangkuan Hutan) Sempolan, yang lokasinya di sisi kiri jalan raya Jember – Banyu-Wangi. Saya sangat senang dan karenanya juga sangat sering ikut truk yang melewati ke rute ini dan sangat senang jika truk yang saya tumpangi mampir ke ‘kemantren’ Sempolan ini. Mengapa? Tidak lain, karena Pak Mantri Hutan yang tinggal di sebelah kantor kemantren ini, adalah seorang dhalang wayang. Mantri hutan yang pada masa itu sangat terkenal ini, namanya Pak Sugondo; yang biasanya dipanggil Pak Gondo. Disebut sangat terkenal, karena seragam pakaiannya yang luar biasa gagah, memakai pakaian safari dan celana berwarna coklat muda, dengan ikat pinggang kulit berukuran besar. Di ikat pinggangnya, selalu tergantung sebuah pistol Colt 'revolver' kaliber 38, dan sebuah 'veldvles' (tempat air minum), serta pisau rimba berukuran besar. Sementara, sepatu yang digunakankannya, adalah jenis sepatu 'laars' kulit berwarna hitam, yang tingginya hampir mencapai lutut.

Pak mantri hutan ini seringkali pergi memeriksa hutan sambil naik kuda. Saat naik kuda ia memakai topi lebar berwarna coklat tua, seperti topi ‘vilt’ yang biasa dipakai para koboi Amerika, tetapi dibuat dari anyaman ‘mendong’, yang salah satu sisi sampingnya sedikit dilengkungkan ke arah atas dan sisi samping lainnya rata. Kelihatannya gagah sekali, dan sangat mirip dengan seorang ‘sherif’ (kepala polisi 'daerah pedalaman' Amerika).



Pagelaran wayang beber di masa lampau. Sederhana, penuh ritual, sesaji, dan mistik.


Di samping rumah dinas tempat tinggalnya, yang letaknya hanya beberapa meter di sebelah kanan kantor kemantren, saya bisa melihat beberapa orang sedang ‘ngerok’ (mengikis) lembaran kulit sapi atau kulit kerbau, yang ditarik kuat-kuat ke arah samping sampai tegang memakai tali-tali yang diikatkan pada konstruksi batang kayu berbentuk kotak (seperti pigura lukisan). Lembaran kulit sapi atau kerbau itu, dikikis memakai 'pecok' (seperti pacul kecil yang ditajamkan), supaya seluruh permukaan kulitnya rata, halus, dan hilang bulu-bulunya. Mengikis kulit sapi atau kerbau, biasanya dilakukan pagi hari sampai menjelang siang hari, dan dilakukan di halaman luar. Dan, yang lebih menyenangkan hati saya, sisa kikisan kulit yang berbentuk gulungan-gulungan kecil terputus-putus, sesudah dikeringkan, biasanya dimasak dengan cara digoreng, dan menjadi ‘krupuk kulit’ atau ‘krupuk krecek’. Atau, dimasak menjadi ‘sambel goreng krecek’, yang jangankan dimakan, bahkan saat melihat saja, sudah timbul air liur saya. Lembar-lembar kulit itu, setelah kering dan rata, lalu dipotong dan dipakai untuk membuat wayang kulit, yang proses pembuatannya juga dilakukan di teras rumah Pak Gondo.

Selain mengikuti truk hutan, saya juga sering ikut ayah melakukan pemeriksaan wilayah hutan, yang di kalangan kehutanan kegiatan seperti ini lazim disebut 'tourne'. Mobil dinas milik PN Perhutani yang dipakai ayah, adalah sebuah kendaraan jip Willys kuno, buatan tahun 1942, warna hijau tua, dengan lampu besarnya yang sangat khas. Letak lampu depannya, di dalam lubang besar pada panel depan kendaraan. Jip Willys kuno yang bernomor polisi P-310 ini, setiap kali akan dipakai ‘tourne’ harus diisi air dingin lebih dulu. Peralatan baku 'inventaris' ayah saya yang dibawa di kendaraan ini, biasanya meliputi senapan laras ganda (double loop) berkaliber 16 mm lengkap dengan sekotak peluru (ukuran pelurunya besar sekali, karena berkaliber 16 mm dan panjang setiap peluru sekitar 10 cm), kompas, teropong binokular, peta petak (peta khusus kehutanan), pisau rimba, ‘veldvles’ (tempat minum versi militer, yang digantung di sabuk celana), sepatu ‘laars’, dan tak lupa juga sebuah jaket. Ayah saya, biasanya memakai baju 'dinas' berupa baju safari lengan pendek dan celana panjang yang dibuat dari bahan „dril‟ berwarna ‘khaki’ (coklat muda). Ia biasanya juga memakai topi pet, berwarna coklat muda. Pada masa itu, kain yang bisa dibeli hanyalah kain dril warna coklat muda itu dan kain belacu warna putih. Seperti juga kesenangan saya ikut truk hutan, saya juga sangat senang jika tourne dilakukan di wilayah hutan sekitar Sempolan. Penyebabnya juga sama, yaitu karena sering mampir di kantor kemantren  Sempolan itu.


Hutan pohon pinus yang indah, lebat, rindang, dan subur; di wilayah Garahan, yang letaknya di sebelah timur Sempolan.


Selain bersama pengemudi jip Willys tua yang bernama Pak Saleh, seringkali ayah saya juga melakukan tourne bersama beberapa pegawai kantor KPH Jember. Di antara mereka, yang paling sering ikut melakukan peninjauan bersama, adalah sinder hutan’ dan ‘mantri hutan’ yang menanggung-jawabi wilayah hutan yang akan ditinjau. Pemeriksaan wilayah hutan seringkali dilaksanakan dengan cara jalan kaki potong kompas, dengan hanya melihat peta petak, langsung menuju petak hutan yang akan ditinjau. Jip Willys tua dan pengemudinya, biasanya dititipkan di rumah penduduk desa setempat, diparkir begitu saja di sisi jalan hutan, atau diminta menunggu di suatu tempat di wilayah sekitar petak hutan yang akan dituju. Saya, sampai sekarang bahkan masih ingat benar nomor polisi kendaraan jip Willys itu, adalah P-310.

Pada masa itu, sebagian wilayah hutan di sekitar Sempolan sedang ditebang dan diganti dengan tanaman hutan produksi jenis pohon pinus. Saat liburan, saya juga sering ikut truk hutan yang mengangkut bibit pohon pinus, yang tingginya sekitar 15 – 20 cm dan diletakkan (dengan media tanahnya) di keranjang-keranjang kecil, yang dibuat dari anyaman bambu. Bibit pohon pinus yang masih kecil ini, biasanya diambil dari tempat pembibitan, yang lokasinya dekat dengan base camp peralatan mekanik Sempolan. Beratus-ratus bibit pohon pinus ini, kemudian diangkut ke tempat penamanan, jauh di tengah hutan. Di tempat penaman pohon pinus itu, biasanya sudah ada sekelompok besar penduduk desa‘mager-sari’, yang oleh PN Perhutani diperbolehkan melakukan kegiatan bertani palawija, sambil menanam dan memelihara pohon-pohon pinus yang masih kecil. Biasanya, mereka akan tinggal selama beberapa tahun di lokasi yang sama, sampai pohon-pohon pinus itu menjadi cukup besar dan bisa ditinggalkan. Setelah pohon-pohon pinus itu besar (setinggi kira-kira 2 – 3 meter), mereka akan dipindahkan ke lokasi lain, untuk melakukan peran dan kegiatan yang sama. Jika kita sekarang melakukan perjalanan dari Kota Jember ke arah Banyu-Wangi, maka setelah melewati Sempolan, sebelum memasuki wilayah hutan Garahan (hutan Gunung Kemitir), kita akan melewati hamparan hutan pohon pinus yang tumbuh subur dan sekarang sudah berubah menjadi pohon pinus yang sangat tinggi dan lebat. Melihat pemandangan ini, membuat saya terharu, dan jadi teringat masa kecil saya, saat sering ikut menanam bibit pohon-pohon pinus kecil itu, di sekitar tahun 1962 – 1963. Waktu serasa berlalu sedemikian cepatnya. Tak terasa, pohon-pohon pinus yang dulu terlihat sangat kecil dan ringkih, sekarang sudah menjadi hutan pinus yang indah, lebat, teduh, dan rindang.



Terowongan kereta-api di Garahan, merupakan salah satu pemandangan unik dan indah wilayah ini.


Di dalam hutan Sempolan, pada suatu lokasi yang jaraknya beberapa kilometer dari jalan-raya Jember – Banyu-Wangi, ada suatu tempat semacam base camp, tempat para pegawai kehutanan dari bagian mekanisasi kehutanan tinggal beserta seluruh keluarga dan alat-alat berat yang ditanggung-jawabi. Mereka itu, merupakan kelompok pegawai mekanik kehutanan pindahan dari Saradan.[4] Uniknya, semua pegawai mekanik ini (pengemudi traktor raksasa, pengemudi buldozer raksasa, pengemudi truk trailer pengangkut kayu gelondongan), beserta seluruh keluarganya, adalah pemain, penari, dan penabuh gamelan yang sangat canggih. Saya masih ingat benar, salah seorang pengemudi traktor penyeret kayu gelondongan bermesin diesel, beroda rantai raksasa, tipe D-9 merk Allis Chalmers, yang beratnya sekitar 39 ton; adalah seorang penari dan pemeran raksasa ‘cakil’ yang sangat bagus, terampil, sangat cekatan gerak tarinya. Tubuhnya yang tinggi ramping, terlihat sangat cocok dengan peran ‘cakil’-nya itu. Sekali sebulan, saat ada perayaan tertentu, perayaan ‘syawalan’, atau peringatan hari kemerdekaan; mereka bisa tiba-tiba berubah menjadi sekumpulan grup kesenian, lengkap dengan penari dan penabuh gamelan-nya. Di base camp mereka itu, setiap bulan sekali kita bisa menyaksikan mereka melakukan pagelaran wayang wong atau kethoprak.

Di antara sejumlah pagelaran wayang itu, beberapa kali dilaksanakan di halaman depan kantor kemantren Sempolan. Biasanya, yang menjadi dhalang ya Pak Mantri Sugondo itu. Sedangkan penabuh gamelan, pesindhen, dan wiraswara-nya; para pegawai mekanik kehutanan dan keluarganya. Tetapi ada suatu pagelaran wayang kulit purwa yang benar-benar unik. Pagelaran wayang ini dilakukan di tengah hutan di tengah hutan rimba di sisi barat laut Sempolan. Pada masa itu, PN Perhutan KPH Jember sedang giat-giatnya membuat jalan rintisan (jalan tembus hutan) di wilayah pedalaman barat luat Sempolan. Bukan membuat jalan raya, tetapi membuat jalan hutan yang bisa dilewati truk dan jip saja. Pada saat awal, jalan hutan itu dibuat dengan cara meratakan tanah memakai buldozer raksasa dari unit mekanisasi Sempolan dan beberapa peralatan berat lainnya. Pembuatan jalan hutan ini memakan waktu selama beberapa bulan. Jika menemui hambatan berupa jurang atau sungai, biasanya dilakukan upaya untuk membuat jembatan. Biasanya yang dibangun adalah jembatan kayu. Beberapa dari jembatan kayu itu, mempunyai bentangan yang cukup panjang dan melewati sungai atau jurang yang cukup dalam.




Tanjakan jalan raya di sekitar GarahTanjakan jalan raya di sekitar Garahan, pada rute Jember - Banyu-Wangi.


Pada saat awal pembangunan, biasanya seluruh pegawai PN Perhutani yang terlibat proses pembangunan, termasuk teknisi dan para operator peralatan berat, dipimpin oleh kepala proyek, akan melakukan selamatan, di lokasi dekat jembatan. Selamatan, biasanya dilakukan siang hari, dan hanya secara sederhana saja. Peristiwa yang benar-benar menyenangkan tetapi juga agak mencemaskan, sebenarnya bukan saat awal pembangunan, tetapi saat jembatan itu sudah jadi dan akan diresmikan pemakaiannya. Pada saat jembatan di tengah hutan rimba itu sudah diselesaikan, maka seperti awalnya, akan dilakukan selamatan dan syukuran. Tetapi yang bagi saya paling menyenangkan, adalah dilaksanakan pagelaran wayang kulit purwa lengkap semalam suntuk. Ceritanya biasanya dipilih yang menarik dan ramai. Dhalang-nya….? Ya Pak Gondo itulah, lengkap dengan para penabuhgamelan yang para operator peralatan berat.

Sejak pagi hari, ‘tarub’ (tenda besar) biasanya sudah didirikan di dekat lokasi jembatan baru. Lalu sekumpulan ibu-ibu (para isteri) keluarga operator peralatan berat itu sudah kelihatan sibuk memasak, di sejumlah tarub kecil, dibantu sejumlah ‘blandhong’ dan anak-anak putri mereka. Sementara, para pria biasanya mempersiapkan penyembelihan sapi, kerbau, atau beberapa kambing. Suasana di sekitar jembatan baru itu, benar-benar semarak dan kelihatan sangat sibuk. Sebagian dari para pria itu, selain sibuk meletakkan deretan kursi, meja, dan tikar mendong untuk duduk lesehan yang dibentangkan di atas lembaran ‘gedheg’ (anyaman bambu); juga sibuk memasang selang-selang kecil di tiang-tiangtarub, yang akan dipasang pada lampu-lampu ‘stromking’. [5]

Siang hari, sekitar jam satu siang, setelah selesai makan, saya bersama ayah melihat-lihat berkeliling dan memperhatikan bagaimana beberapa penabuh gamelan yang sehari-harinya adalah para operator alat berat itu memasang ‘geber wayang’ (layar wayang) dan ‘menyimping’ (menata) wayang kulit dan menancapkannya di atas ‘debog’ pisang panjang, di sebelan kanan dan kiri gunungan. Saya memperhatikan saat wayang-wayang kulit itu ditata secara berurut dan sangat rapi. Beberapa orang sibuk menata ricikan gamelan dan mengatur letaknya, sehingga ada ruang yang cukup untuk para penabuhnya duduk saat menabuh. Tepat di bagian tengah layar wayang, agak ke atas, beberapa orang terlihat sedang sibuk memasang lampu stroomking. Sekitar jam empat sore, seluruh proses penataan panggung pagelaran wayang sudah selesai. Di mata saya, panggung wayang dan gamelan itu tampak sangat indah dan memberikan kesan semarak. Apalagi dengan rancak gamelan-nya yang berwarna merah menyala dengan hiasan ornamen berwarna keemasan.




Kereta-api penumpang Sri-Tanjung sedang melewati rute di sekitar Garahan.


Sekitar jam tujuh malam, para pejabat PN Perhutani dan para undangan lainnya, termasuk penduduk desa setempat, para sepepuh desa, lurah, carik, kepala dukuh, serta sanak keluarga para operator peralatan berat dan seluruh pekerja proyek jembatan; sudah pada hadir dan duduk di tempat masing-masing. Gendhing-gendhing juga sudah mulai dimainkan. Suara gendhing-nya biasanya bisa terdengar dari kejauhan (beberapa kilometer). Beberapa saat kemudian, upacara pembukaan pun dimulai. Biasanya dilakukan sambutan-sambutan resmi dari para pejabat, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dilakukan oleh kyai setempat. Setelah seluruh acara resmi dan pembacaan doa selesai dilaksanakan, lalu dilanjutkan dengan makan bersama-sama. Hidangan yang paling disukai adalah sate sapi dan sate kambing, dengan saus kacang dan kecap yang pedas bercampur potongan bawang merah. Sementara itu, ada juga hidangan gulai daging kerbau. Ada juga sayur sop dengan potongan-potongan kecil wortel, kentang, dan kubis, yang biasanya sangat gurih rasanya. Sudah barang tentu, kiriman makanan yang berasal dari sumbangan Pak Mantri Sugondo yang sangat khas, yaitu ‘sambel goreng krecek’, tidak pernah lupa disajikan. Nasi hangat (memakai beras 'Raja Lele') yang masih mengepul, membuat perut seluruh pengunjung semakin lapar saja. Suasana makan bersama ini, berlangsung sekitar satu jam dengan penuh kegembiraan.

Sebagai pelengkap, biasanya disajikan rokok. Rokok putih, umumnya tidak terlalu disukai. Sebaliknya, lazimnya disajikan rokok kretek, yang biasanya dihidangkan dalam keadaan sudah dibuka bungkusnya dan batang-batang rokoknya diletakkan di dalam gelas-gelas. Berbagai merk rokok kretek dicampur begitu saja di dalam gelas-gelas. Minuman teh hangat dan kopi umumnya menjadi minuman standar yang disajikan. Suasana malam peresmian jembatan itu benar-benar semarak dan membuat senang seluruh yang hadir. Deretan kursi (tidak terlampau banyak), biasanya ditempati para pejabat dan para pamong desa, sedangkan para hadirin lainnya dan penduduk setempat biasanya duduk lesehan di atas tikar. Seluruh yang hadir, biasanya berjumlah sekitar 150 – 200 orang. Semuanya duduk berkumpul di bawah naungan tarub besar itu. Sekitar jam delapan malam, udara sudah semakin dingin. Gendhing-gendhing dimainkan para pengrawit menemani para hadirin makan bersama.

Bulan sudah purnama dan menyinarkan cahayanya bagaikan bola emas bersinar terang di angkasa. Dan, sekitar jam setengah sembilan malam, Gendhing Talu Wayang mulai dimainkan. Suasana mulai berubah menjadi semakin ‘gayeng’ dan semarak. Hadirin sedikit demi sedikit berusaha mendekat ke arah panggung. Mereka duduk bersila lesehan di atas tikar. Lalu sekitar jam sembilan malam, Pak Mantri Sugondo yang sudah memakai pakaian tradisional Jawa, seakan 'berubah' peran dan menjelma menjadi seorang dhalang, berdiri tegak, lalu berjalan perlahan-lahan mendekati para pejabat, sesepuh, dan pamong desa. Sesaat, ia bersalaman dengan para pejabat dan memohon ijin untuk memulai pagelaran wayang. Bersamaan dengan terdengarnya Gendhing Sampak Manyura, yang ditabuh bertalu-talu, ia naik ke atas panggung pagelaran. Tepat saat Gendhing Sampak Manyura berubah menjadi melambat dan terdengar semakin sayup-sayup karena hendak dihentikan, Pak Gondo yang sudah menjadi dhalang pagelaran wayang kulit purwa malam itu, duduk tegak bersila di tempatnya, tepat di depan layar wayang. Sesaat kemudian, nyala lampu-lampu stroomking dipadamkan. Dan, tinggal sebuah lampu stroomking yang menyala di depan layar wayang. Tiba-tiba saja bau asap kemenyan menyeruak menyebar ke seluruh bagian dalam tarub. Suasana seketika berubah menjadi remang-remang penuh sakral. Begitu Gendhing Sampak Manyura berhenti. Suasanya hening sejenak. Tak ada yang berkata-kata. Hanya kesunyian yang terjadi. Dhalang membaca mantra dan doa sesaat. Suaranya terdengar lirih, seakan berbisik kepada Sang Penguasa Jagat Raya, memohon berkah, rakhmat, dan karunia-Nya. Hanya terdengar suara burung-burung malam di kejauhan dan gemerisik angin malam yang berhembus. Lalu gedhog dhalang dibunyikan, dan tiba-tiba pagelaran wayang pun dimulai……

Di tengah hutan rimba belantara, pagelaran wayang kulit purwa itu menghasilkan suasana yang menggetarkan. Selama beberapa waktu, saat gendhing jejer pathet nem mulai dimainkan, suara gamelan mengalun seakan menyihir seluruh hadirin, yang duduk terpaku di tempatnya masing-masing. Adegan demi adegan berlangsung di bawah sorot mata para hadirin. Perlahan-lahan, suasana berubah menjadi semakin cair. Semakin malam suasana semakin cair, dan semakin menyenangkan. Semua yang hadir, masuk ke dalam tarub besar itu dan berusaha menempatkan dirinya seenak mungkin. Sementara di luar tarub besar, jauh di atas ranting dan dahan pohon-pohon rimba yang tegak berdiri agak jauh, samar-samar terlihat sejumlah pasangan cahaya bulat hijau kebiru-biruan bersinar terang di dalam kegelapan. Pasangan cahaya itu sesekali bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Jumlah pasangan cahaya itu, lebih dari sepuluh pasang. Saya yang berdiri di pinggir tarub, terpaku saat melihat pasangan cahaya yang jumlahnya cukup banyak dan selalu bergerak-gerak. Ada sedikit rasa takut saat melihat pasangan cahaya-cahaya itu. Saya mencoba menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas dan bertanya-tanya dalam hati, cahaya apakah gerangan itu. Bermenit-menit saya berusaha memperhatikan titik-titik pasangan cahaya itu, tetapi tak juga mengerti apa sebenarnya pasangan cahaya itu. 

Tanpa saya ketahui, rupanya seorang mandor hutan, melihat apa yang sedang saya perhatikan. Dia lalu menggamit bahu saya. Saya sedemikian terkejutnya, sampai-sampai terlonjak kaget. Mandor hutan itu, lalu memberitahu saya sambil berbisik: “Anakmas, jangan keluar dari tarub ya.” Saya terkejut dan balik bertanya: “Kenapa Pak?” Dengan tetap berbicara perlahan-lahan, dia menjawab: “Sebab pasangan cahaya berwarna hijau kebiru-biruan yang bergerak-gerak dan ada jauh di atas dahan dan ranting pohon rimba di sana itu, adalah mata macan tutul dan macan kumbang yang akan bersinar jika terkena pendaran cahaya lampu. Harimau-harimau itu, menunggu saat yang tepat untuk turun dan makan sisa hidangan, termasuk makan sisa-sisa daging hewan yang siang tadi disembelih di luar tarub. Jadi, sebaiknya Anakmas jangan ke luar dari tarub. Harimau-harimau itu takut pada api dan cahaya. Karena itu, di luar tarub, orang menyalakan beberapa api unggun kecil. Api unggun ini harus tetap hidup sampai besok pagi. Harimau-harimau itu, sangat sabar menunggu. Nanti, setelah semua hadirin selesai menikmati makan malamnya, beberapa blandhong akan melemparkan sisa-sisa makanan dan daging ke luar, dilempar jauh-jauh ke arah harimau-harimau itu.” Mendengar penjelasan pak mandor hutan itu, saya jadi bergidik dan timbul rasa takut juga. Tapi dia 'ngayem-ayemi' (menteramkan hati saya), dengan berkata: “Jangan kuatir Anakmas, pokoknya jangan keluar dari tarub ya….” Saya hanya menganggukkan kepala. Pak mandor hutan itu rupanya tahu juga kekecutan hati saya. Ia lalu berkata kepada saya: “Begini saja Anakmas, bagaimana kalau Anakmas saya antar naik ke atas panggung, dan duduk di antara para penabuh gamelan?” Mendengar usulannya itu, saya terkejut dan balik bertanya: “Apa boleh begitu?” Dia menjawab: “Ya boleh saja. Ayo saya antar ke sana…..” Sesaat kemudian, saya diantar pak mandor hutan dan kemudian dicarikan tempat yang agak longgar di antara para penabuh ricikan saron dan demung yang letaknya di deretan paling belakang para penabuh. Nah, sejak itulah, jika nonton pagelaran wayang kulit purwa, saya selalu berusaha untuk naik ke panggung dan duduk di belakang para penabuh ricikan balungan

Pagi-pagi tubuh saya terasa terguncang-guncang! Ternyata saya telah tertidur pulas di belakang badan para penabuh gamelan. Begitu membuka mata, samar-samar saya melihat ayah saya berdiri di belakang panggung dan berkata: “Ayo kita pulang, wayangan-nya sudah selesai dan hari sudah pagi….” Pagi itu, hari Minggu, dengan mata masih terkantuk-kantuk kami naik jip Willys tua yang setia, kembali ke Kota Jember. Saya tidak tahu lagi melewati mana saja perjalanan pulang itu, karena saya tak bisa lagi menahan kantuk dan meneruskan tidur di jok belakang jip tua itu. Sejak itulah, saya menyukai nonton pagelaran wayang kulit purwa dalam kondisi yang sangat tradisonal. Kenangan indah saat menonton pagelaran wayang kulit purwa di tengah hutan rimba belantara Sempolan itu, tidak akan pernah hilang dari ingatan saya sampai kapan pun…….

____________________________________

[1] 'Trikora' adalah singkatan judul pidato Bung Karno, yang isinya memerintahkan rakyat Indonesia bergabung menjadi sukarelawan dan menyerbu Irian Barat, yang saat itu masih menjadi wilayah jajahan Belanda.

[2] PN adalah singkatan dari 'perusahaan negara'. Sekarang, sebutannya sudah berganti menjadi PERUM, singkatan dari 'perusahaan umum'.

[3] KPH merupakan singkatan dari 'Kesatuan Pemangkuan Hutan'. Pejabat tertinggi di kantor KPH adalah seorang „administratur‟, yang di kalangan kehutanan sering disingkat penyebutannya menjadi ADM. Seorang ADM, biasanya membawahi beberapa 'sinder' yang kantornya lazim disebut 'kesinderan'. Seorang 'sinder kehutanan', biasanya membawahi beberapa 'mantri hutan', yang kantornya lazim disebut 'kemantren' atau kantor KRPH (Kesatuan Resor Pemangkuan Hutan). Seorang 'mantri hutan', biasanya membawahi sejumlah 'mandor hutan'. Dan, seorang 'mandor hutan' biasanya membawahi sejumlah 'blandhong', yaitu pekerja yang bekerja secara langsung di hutan. Di wilayah kemantren tertentu, biasanya terdapat suatu lokasi yang khusus melakukan pembibitan atau penyemaian tanaman hutan, TPK (tempat penimbunan kayu) hasil tebangan hutan, dan kadang-kadang ada juga 'base workshop' dan 'base station' tempat menyimpan sejumlah peralatan berat untuk keperluan kehutanan, seperti traktor, buldozer, truk trailer, truk katrol, dan kelengkapan bahan bakar serta minyal pelumas untuk keperluan berbagai mesin itu. Unit ini, seringkali disebut sebagai unit peralatan mekanisasi kehutanan, yang lokasinya biasanya terpencil di tengah hutan.

[4] Saradan, adalah nama sebutan sebuah TPK (tempat Penimbunan Kayu) gelondongan kayu jati dan pohon rimba milik PN Perhutani KPH Madiun, yang sangat terkenal dan sangat besar kapasitasnya. Lokasinya terletak di tengah hutan jati, di sebelah timur Kota Madiun; pada jalan raya Madiun – Jombang.

[5] ‘Stroomking’ adalah sejenis lampu seperti ‘petromax’, tetapi mempunyai tangki minyak yang terpisah. Lampu stroomking, biasanya menerima minyak tanah bertekanan tinggi dari tangki melalui selang-selang kecil yang dipasang di antara tangki dan lampu stroomking. Tangki minyak tanah yang dipakai, biasanya berukuran cukup besar, karena harus bisa menyalakan semua lampu stroomkingsemalam suntuk. Seperti pada petromax, setiap lampu stroomking sebelum dinyalakan, harus dipanaskan lebih dahulu memakai minyak spiritus selama beberapa menit. Sementara lampu-lampustroomking itu dipanaskan memakai minyak spiritus, tangki minyak tanah dipompa, sehingga menghasilkan tekanan yang cukup tinggi. Setelah lampu stroomking menjadi cukup panas dan tekanan minyak tanah sudah mencukupi, maka keran kecil pengatur aliran minyak tanah bertekanan di lampustroomking itu dibuka sedikit demi sedikit, sehingga nyala lampu stroomking diatur sehingga menjadi terang benderang seperti lampu petromax. Sebagai tambahan, istilah ‘stroomking’ yang lazim dipakai di kalangan masyarakat, sebenarnya merupakan penyebutan yang salah dari merk lampu minyak tanah bertekanan itu. Lampu ini, sebenarnya bermerk „Storm King‟. Tetapi bagi lidah penduduk lokal, mungkin karena sukar menyebutnya, lalu supaya mudah lalu disebut ‘stroomking’.

 





KENANGAN DARI MASA LALU: KECER WAYANGANNYA MEMAKAI MEMAKAI PIRING DAN SENDOK



Bram Palgunadi




Ini merupakan foto lawas satu-satunya, yang saya rekam pada sekitar tahun 1980-an, saat saya sedang melakukan survei lapangan, dalam rangka penyusunan skripsi saya, yang berjudul 'Gamelan Jawa'. Dibuat di sebuah desa pedalaman, yaitu Desa Dhadhap-Ayam, yang lokasinya terletak di sebelah timur-laut Kota Sala-Tiga; agak jauh ke arah pedalaman, dan merupakan wilayah pegunungan. Rekaman dilakukan pada saat dilaksanakannya pagelaran wayang kulit purwa gagrak Pesisir, dalam rangka upacara ritual adat Bersih Desa.

Dari Mbak pesindhen yang 'janda kembang' inilah, saya belajar memainkan 'kecer wayangan', yang karena ricikan kecer-nya tidak tersedia, lalu diganti menggunakan piring keramik dan sendok dan garpu. Suaranya yang gemerincing ringan, benar-benar membuat saya jatuh hati. Karenanya, saya lantas berusaha menguasainya, dan belajar seketika saat itu, diajari oleh Mbak pesindhen muda itu. Beberapa saat kemudian, saya bisa memainkannya. Sempat memainkannya juga selama beberapa saat, pada pagelaran wayang kulit purwa gaya Pesisir itu...

Dan, pada pagelaran resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir, yang ditampilkan di Aula Barat ITB, hari Minggu, tanggal; 20 Agustus 2023 yang lalu, saya meminta MBak Winda, sahabat baru saya, untuk memainkan kecer wayangan. Sebenarnya, di PSTK-ITB, ada ricikan kecer wayangan, tetapi bilah kecernya kelihatannya terlampau tebal, sehingga suara yang dihasilkan tak bagus. Karenanya, saya lalu berburu piring keramik. Dan, dapatlah dua piring keramik, yang menghasilkan suara yang sedikit berbeda. Mbak Winda, akhirnya memilih piring keramik yang menghasilkan suara gemerincing agak lebih tinggi. Sedangkan proses membunyikannya, semula (seperti aslinya), adalah menggunakan sepasang sendok dan garpu logam. Tetapi setelah dicoba memainkannya, selama beberapa saat, saya dan Mbak Winda, akhirnya memilih memainkannya menggunakan dua buah sendok saja. Bukan memainkan menggunakan sendok dan garpu.

Sewaktu Mbak Winda memainkan kecer wayangan dari piring dan sendok logam itu, ingatan saya tiba-tiba saja melayang kembali, ke tahun 1980-an. Bahkan, saya bisa mendengarkan kembali, suara pagelaran wayang kulit purwa gaya Pesisir itu, di Desa Dhadhap-Ayam; yang diiringi menggunakan 'Gamelan Gunung', yang hanya menggunakan sebuah Gong Ageng bernada 1, sebagai Gong Ageng dan sekaligus juga sebagai Gong Suwukan; yang bunyinya lebih mirip dengan Gong Gamelan Bali. Saat bertama kali saya mendengarnya, terasa asing dan sangat aneh. Tetapi selepas satu jam kemudian, semua yang saya dengar itu, seperti menjadi biasa, dan tak terasa aneh lagi. Sewaktu menampilkannya dalam resital karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir di Aula Barat ITB, semua suasana yang terjadi di Desa Dhadhap-Ayam saat itu, tiba-tiba saja hidup kembali, membayang di benak saya. Membuat semua kenangan menjadi tampil, persis seperti yang terjadi 43 tahun yang lalu......

05 September 2023

TIGA VERSI TEMBANG SULUK MANTRA MANYURA

 

Bram Palgunadi



Tembang Suluk Pesisir, akan mempunyai suatu 'image' (kesan) yang berbeda, saat dilantunkan oleh 'panembang' yang berbeda. Tembang Mantra Manyura ini, syairnya berisi doa permohonan kita, kepada Gusti Allah. Tembang ini, dinyanyikan pada pagi hari, menjelang mata-hari terbit itu. 


Syair:

Sun arsa mateg Mantra Manyura, 
Samar kadya tan katon wujude, 
Angelangut jroning wengi, 
Samar kadya ginawa ing samirana, 
O.
Kinembangan Mantra Manyura sajuga, 
Tan samar pamoring suksma, 
Sinuksmaya ing asepi, 
O,
Dhuh Gusti jejimat ingsun, 
Sun memba dadya kang sun karsa, 
O, 
O,


Terjemahan:

Hamba hendak membaca Mantra Manyura, 
Samar bagai tak tampak wujudnya, 
Perlahan terdengar saat malam hari, 
Lamat-lamat bagai terbawa oleh angin, 
O,
Berhiaskan doa-doa, 
Tak ragu akan pancaran jiwa, 
(Yang) dijiwai pada saat sunyi, 
O,
Duh Tuhan azimat hamba, 
Hamba mohon kabulkanlah keinginan hamba, 
O, 
O.

Melantunkan Tembang Mantra Manyura, memang memungkinkan bagi panembang-nya, untuk membebaskan diri dalam mengexpresikan lantunan tembang-nya. Termasuk, juga membebaskan diri, dan memilih kesan yang ingin ditampilkan. Karenanya jika kita mendengarkan ketiga versi Tembang Suluk Mantra Manyura ini, segera akan terasa perbedaan kesan yang ditimbulkannya.



Ini adalah kumpulan beberapa suluk dan ada-ada. Diawali Tembang Suluk Mantra Manyura. Rekaman yang semula selama beberapa tahun, entah bagaimana terselip, dan tersimpan. Rekaman ini, dilakukan sebelum pandemi Covid-19. Dilantunkan dengan gembira oleh saya, dan Mbak Ayu 'Kuke' Wulandari.



Ini adalah Tembang Suluk Mantra Manyura yang dilantunkan oleh Mbak Bunga Dessri Nur Ghaliyah. Meskipun ia berasal dari Tanah Parahyangan, tetapi sama sekali tak terasa intonasi Sundanya. Dilantunkan dengan penuh perasaan dan dengan kehalusan rasa yang luar biasa.



Rekaman yang ketiga ini, dilantunkan oleh Mbak Jane, seorang pegiat 'psichological healing' yang tinggal di Pulau Bali, yang meyakini bahwa Tembang Suluk Mantra Manyura, bisa digunakan sebagai sarana treatment psikologi, untuk menghasilkan ketenangan jiwa. Melantunkannya, jelas melibatkan seluruh emosi, dan penghayatan yang sangat dalam. Diringi dengan 'Tibetan bowl', Tembang Suluk Mantra Manyura memang lalu menghasilkan kesan mistis.

Begitulah kebebasan untuk mengexpresikan suatu tembang disampaikan oleh para pelantun yang berbeda, dan menghasilkan kesan yang jelas berbeda.







TALU: SEBUAH REFLEKSI 'SANGKAN PARANING DUMADI' MANUSIA


Bram Palgunadi




Manusia, hidup dalam putaran jantra waktu. Tak seorangpun yang bisa mengalahkan sang waktu ini. Dan tak seorang pun juga yang bisa membalikkan, mengundurkan, memajukan, atau mengatur jantra waktu sesuai keinginannya. Cerita wayang kulit purwa yang dilakonkan semalam suntuk, sebenarnya hanya memainkan sepersekian juta dari seluruh peristiwa perjalanan kehidupan manusia. Karenanya, jauh lebih penting mengetahui apa yang terjadi pada seluruh kehidupan manusia, dari pada mengetahui hanya suatu bagian kecil cerita kehidupan manusia semata. Talu, merefleksikan seluruh peristiwa kehidupan manusia. Sedangkan cerita wayang semalam suntuk, realitasnya hanya mewakili sebuah petikan peristiwa kehidupan manusia yang terjadi dalam saat waktu yang sangat pendek. Karenanya, mereka yang memahami ini, akan menjadi orang-orang yang jauh lebih bijak, karena mereka telah mengetahui hakikat kehidupannya.

Sunyi senyap di sekeliling kumpulan wadhitra. Para pradangga penabuh wadhitra, duduk bersila, diam terpekur dalam ruang angan masing-masing. Seakan mereka sedang berharap dan berdoa, agak Sang Penguasa Jagat Raya mengijinkan mereka memutar jantra kehidupan dan mengetahui ceritanya barang sedikit. Tiba-tiba, mereka merasa sesak dan sendu di dalam dada. Perasaan galau yang tak terkendali merasuk ke dalam hati.

O,
Sun arsa mateg mantra Manyura,
Samar kadya tan katon wujude,
Angelangut jroning wengi,
Samar kadya ginawa ing samirana,
O,
Sumusup sajroning nala,
Kinembangan mantra sajuga,
Tan samar pamoring suksma,
Sinuksmaya ing asepi,
O,
Jroning layap liyeping aluyup,
Dhuh Gusti jejimat ingsun,
Sun memba dadya kang sun karsa,
O.[1]


Hanya doa mantera itu yang terdengar mengalun perlahan di dalam sanubari kita. Membawa kita ke alam mimpi-mimpi saat hari masih pagi, masih gelap gulita. Sang matahari belum bersinar, jauh di ufuk timur. Semua masih terlelap dalam mimpi. Berkelana di alam imajinasi masing-masing. Terentang sepanjang malam. Bahkan, buti-butir air hujan yang jatuh perlahan ke atas bumi, tak terdengar sama sekali. Jatuh bagai melayang begitu saja.

Kesunyian merebak di antara para manusia, pelaku kehidupan di alam janaloka. Merenungkan dari mana kita dulu datang bermula, dimana kita sekarang, dan kemana kita akan kembali nanti. Merenung dalam sunyi, hikayat ‘sangkan paraning dumadi’.[2]

Beberapa saat hanya terjadi keheningan semata. Sunyi. Tak ada seorang pun yang bersuara. Tak ada suara apapun. Lalu, perlahan terdengar sesaat, suara senggrèngan rebab menyayat hati dibunyikan. Seakan memberikan tanda kepada para panjak, untuk bersiap memasuki dunia yang baru. Memasuki dunia penuh mimpi dan imajinasi. Bersiap melantunkan dan memperdengarkan, permainan hidup dan mati manusia.

Hening sesaat, lalu terdengar nada-nada awal bukâ gendhîng, perlahan mulai dimainkan oleh panjak rebab. Terdengar suara gông ageng berbunyi penuh getar-getar kehidupan, bersamaan dengan saat nada-nada bukâ gendhîng mencapai akhir bait permainan. Gendhîng Talu mulai menggema perlahan, irâmâ-nya semula cepat, secepat detik-detik awal permulaan kehidupan manusia di alam janaloka, saat manusia turun ke alam janaloka, saat untuk pertama kali keluar menjelma ke alam janaloka. Lalu perlahan-lahan melambat, seakan hendak menceritakan mulai mapannya putaran jantra kehidupan manusia.

Suara sulîng (seruling) melengking tinggi, bersambut dengan tembang pesindhèn yang sendu, ditingkah desah suara rebab, seakan-akan mengalunkan cerita tentang awal dan akhir kehidupan manusia. Pahit-getir dan manisnya madu kehidupan manusia di alam jânâlokâ, di-tembang-kan dalam gendhîng. Menggetarkan gunungan, hakekat pelindung seluruh alam kehidupan manusia.

Talu, bercerita peristiwa perputaran jantra kehidupan manusia, sejak manusia belum dilahirkan, sampai ia meninggal dan kembali ke pangkuan Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya). Cucûr Bawûk telah bergetar, mengalir perlahan, mengisi keheningan malam. Mempertemukan mimpi-mimpi dua manusia, bagaikan cerita lelananging jagat dan wanodyaning jagat. Seakan tak ada dua sejoli lain di alam jana-loka ini. Cucûr Bawûk mengalun perlahan-lahan, seakan menapak dan mempertemukan perjalanan manusia saat awal kehidupan mulai.

Lalu kedua sejoli ini saling merengkuh dalam kedamaian dan cinta suci yang tiada tara. Seakan dunia ini telah menjadi milik mereka. Cucûr Bawûk mengawali permainan seluruh rangkaian Gendhîng Talu. Gendhîng ini, merupakan salah satu gendhîng yang paling banyak dimainkan para panjak sejak ratusan tahun yang lalu, untuk mengawali pagelaran wayang. Istilah 'cucûr bawûk', mewakili sebutan untuk proses reproduksi kehidupan manusia, yang dilakukan oleh pria dan wanita. Jika ditilik dari makna sesungguhnya, istilah cucûr, mewakili hakekat proses kerja alat repoduksi kehidupan (alat kelamin) yang dimiliki kaum pria. Istilah cucûr, pada dasarnya berarti: mengucur, mengalir, tetesan, atau aliran. Sedangkan istilah bawûk mewakili hakekat sifat alat reproduksi kehidupan manusia (alat kelamin), yang dimiliki oleh wanita. Dengan demikian, istilah cucûr bawûk, jelas mengandung maksud hendak menceritakan hakekat proses awal kehidupan manusia. Kehidupan manusia, pada hakekatnya, selalu dimulai dari ritual pertemuan dua manusia, yaitu pria dan wanita yang diikat oleh tali cinta dalam suatu perkawinan.

Istilah bawûk, di kalangan masyarakat tradisional suku-bangsa Jawa, juga dikenal sebagai panggilan kesayangan untuk anak perempuan atau anak gadis. Seorang anak perempuan yang sangat disayangi oleh orang-tuanya, biasanya dipanggil dengan sebutan 'bawûk' atau 'wûk'Panggilan atau sebutan ini, juga setara artinya dengan 'ndhûk' atau 'nîng'. Sedangkan istilah 'cucûr', 'kucûr', atau 'ngucûr' mewakili hakekat peristiwa yang dilaksanakan oleh alat reproduksi yang dimiliki oleh kaum pria, pada saat dilakukan proses reproduksi kehidupan manusia. Istilah cucûr, kucûr, atau ngucûr mempunyai pengertian: mengucur, menetes, atau mengalir perlahan-lahan. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah cucuran atau tetesan kehidupan baru yang diberikan oleh pria kepada wanita, dalam proses reproduksi kehidupan manusia. Dalam istilah sehari-hari, istilah ini mewakili proses bersenggama atau bersetubuh, antara pria dan wanita yang kemudian membuahkan adanya janin (bayi). Hakekat kehidupan pria dan wanita yang terikat perkawinan dan cinta yang penuh kesucian, adalah pria memberikan, dan wanita menerima benih kehidupan manusia masa depan. Mereka itu, berdua pada hakekatnya adalah sepasang manusia yang melayarkan biduk kehidupan, menempuh badai di dalam samodra kehidupan di alam jânâlokâ.

Keinginan hati untuk dapat menimang seorang anak, seringkali mengakibatkan kepahitan hidup atau kesengsaraan bagi seorang ayah atau seorang ibu. Bayang-bayang kebahagiaan seorang ibu untuk menimang bayinya, sering disertai kerelaan untuk menghadapi kesengsaraan, kesakitan, bahkan kematian pada saat melahirkan. Dapatkah seorang laki-laki (bagaimanapun tegarnya ia pada saat menghadapi badai kehidupan) bersikap tegar dan tega pada saat menghadapi dan mendampingi wanita yang menjadi garwâ-nya (istilah garwâ, merupakan singkatan 'sigaraning nyâwâ' yang artinya: belahan jiwa), saat isteri kesayangannya harus meregang nyawa menghadapi kesengsaraan, kesakitan, bahkan mungkin kematian; pada saat melahirkan bayi dambaan hatinya? Dapatkah seorang pria membayangkan bagaimana isteri tercintanya itu meregang tubuh, menantang maut hanya untuk melahirkan seorang bayi yang selalu dimimpikan ayahnya? Apakah seorang pria terbayangkan bahwa keselamatan dan kelahiran bayinya, manusia muda dambaan yang seringkali diceritakannya, atau dimimpikannya itu, seringkali harus ditebus dengan kesengsaraan dan bahkan mungkin kematian isteri tercintanya? Seorang pria, tidak akan pernah bisa membayangkannya, karena ia ditakdirkan untuk tidak pernah mengalami peristiwa ini.

Ritual pertemuan antara pria dan wanita, pada akhirnya akan melahirkan manusia-manusia muda. Mereka itu, manusia yang akan mengarungi samodra kehidupan masa depan. Anak-anak mereka yang baru lahir itu, lemah dan tak berdaya sama sekali menghadapi dunia yang penuh rintangan dan mara bahaya, dalam menempuh kehidupan yang ganas dan tak kenal belas kasihan. Tetapi bagi ayah dan ibunya, mereka ini merupakan permata hati yang tak terkirakan nilainya. Seorang ayah atau ibu, bahkan rela ‘tôh pati’ atau ‘ngetôhi pati’ (bertaruh nyawa atau bersabung nyawa mempertaruhkan keselamatan diri sendiri), demi keselamatan, kebahagiaan, dan kehidupan anak-anak mereka.

Kelucuan, kerinduan, kelembutan anak-anak manusia yang telah dilahirkannya itu, dan juga kenakalannya tak akan pernah merintangi ayah dan ibunya, untuk mencintai dan menyayanginya. Kesulitan demi kesulitan, yang harus dihadapi oleh seorang ayah atau seorang ibu, untuk mempertahankan hidup, membesarkan, menyenangkan, dan membahagiakan anak-anak permata hati tercintanya itu, bahkan sering membuat kehidupan ayah dan ibu menjadi sengsara. Mereka berdua, sepasang manusia berjuang menempuh badai lautan kehidupan, demi permata hatinya, demi anak-anaknya biarpun kehidupan mereka sendiri seringkali penuh dengan kepahitan sepahit rasa buah paré anôm (buah paria muda) yang biarpun terasa pahit, tetapi tetap juga dimakan.[3] Di dalam kesengsaraan dan kepahitan hidup ayah dan ibu, kelucuan anak-anaknya seringkali menjadikan kehidupan yang pahit itu terasa manis. Makna filosofis buah paria muda inilah yang dikandung dalam Gendhîng Paré Anôm, yang merupakan kelanjutan Gendhîng Cucûr Bawûk karena memang begitulah hakekat ritual kehidupan manusia di alam jânâ-lokâ ini. Kesulitan dan kepahitan hidup, seringkali harus dialami manusia jika ia hendak menggapai cita-citanya.

Saat anak-anak telah mulai menjadi remaja, maka mulailah suatu dunia yang baru yang ‘asri’ (indah) dan ‘moncèr’ (penuh kecemerlangan, dan penuh gemerlap). Ayah dan ibu anak-anak itu, akhirnya hanya bisa melihat dari kejauhan dan seringkali tidak lagi bisa berbuat apa-apa atau, tidak bisa berbuat banyak lagi. Anak-anaknya mulai berubah menjadi remaja yang tampan dan cantik. Mereka mulai meninggalkan pangkuan dan rengkuhan orang-tuanya. Mereka itu, memulai proses meninggalkan kehidupan bergantung kepada ayah dan ibu. Mereka itu, adalah manusia masa depan, yang berbekal ‘kawrûh, kasantosan, lan ilmu’ (pengetahuan, keteguhan hati, dan ilmu) akan menyongsong masa depan. Anak-anak yang mulai menginjak remaja itu, bagi orang-tua yang telah membesarkannya dengan segala kesulitan mereka itu sangat katôn asri (terlihat sangat indah), seperti realitas yang mereka tampilkan.

Jika anak-anak mereka itu pria, maka akan terlihat sebagai manusia yang muda, tampan bagai satriyâ (ksatria), narpati mudhâ atau râjâ mudhâ (raja muda), atau bagaikan déwa (déwa) turun dari kahyangan. Atau, jika anak-anak mereka itu perempuan, maka akan terlihat sebagai manusia yang cantik rupawan, belia, jelita, bagaikan dèwi, bagaikan puteri kahyangan, bathari, atau bagaikan ratu. Mereka itu, seakan menjadi intan permata bagi orang-tua, yang dengan segala kecermerlangannya, menyongsong kehidupan masa depan, untuk kemudian menjadi manusia-manusia dewasa, panuh pamôr kehidupan, dan akhirnya akan menggantikan segala peran ayah ibu mereka.

Itulah kandungan makna filosofis Gendhîng Ladrang Sri Katôn yang merupakan nama gendhîng lanjutan dari Gendhîng Paré Anôm. Dan, memang begitulah cerita kehidupan kita sebagai manusia. Masa-masa yang penuh kesulitan akhirnya berganti dengan masa penuh kecemerlangan dan gemerlap, paling tidak dalam bentuk cita-cita atau mimpi. Masa dewasa yang penuh dengan keberhasilan dan penuh gebyar gemerlap duniawi. Manusia memetik ‘wôhîng panggawé’ yakni memetik karma, buah dari perbuatan dan peri-lakunya. Mencapai puncak kejayaan, puncak segala cita-cita kehidupan yang dimimpikannya.

Dinâ (hari) berganti minggu, minggu berganti wulan (minggu), wulan berganti warsâ (tahun), warsâ berganti windu, dan seterusnya. Sang Kâlâ berjalan terus menuruti takdirnya, me-mângsâ seluruh isi kehidupan di alam jânâ-lokâ. Maka, datanglah akhir masa katôn asri, akhir masa gemerlap dan kegemilangan meninggalkan kenangan yang indah dan penuh mimpi. Manusia-manusia dewasa itu, kini telah mulai berubah menjadi manusia-manusia yang tua renta. Kehilangan segala keperkasaan masa mudanya, kehilangan semua kejelitaan masa gemerlapnya. Menyongsong masa akhir, saat hidup hendak berhenti, saat datang masanya hendak menghadap Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya). Dan, akhirnya datang jua waktu yang sudah ditakdirkan dan dijanjikan itu. Jiwa manusia, bersiap pergi meninggalkan raganya. Sûkmâ Ilang, menghadap ke pangkuan Sang Penguasa Hidup dan Mati. Manusia, tak bisa menolak takdir yang telah berlaku terhadapnya.

Begitulah kandungan makna filosofis Gendhîng Ketawang Sûkmâ Ilang, yang berkisah tentang saat akhir kehidupan manusia di alam jânâ-lokâ. Manusia meragukan kembali, berbagai hal yang baik dan buruk tentang dirinya. Ia bimbang kepada seluruh kehidupannya. Segala yang sudah terjadi itu disesali, meskipun ia tahu hal itu tak lagi berguna. Segalanya sudah menjadi bubur. Sang Kâlâ telah memburunya, untuk segera menghadap Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya) mempertanggung-jawabkan segala perbuatan dan kehidupan duniawinya. Seperti irâmâ Gendhîng Ayak-ayak yang tak menentu kadang-kadang cepat dan kadang-kadang melambat, serba terbata-bata, serba tak jelas lagi irâmâ-nya. Seakan-akan hidup ini masih panjang, tetapi seringkali terasa bahwa kehidupan seakan tinggal beberapa detik lagi. Manusia, secara terburu-buru menimbang kembali segala perbuatan dan peri-lakunya di alam jânâ-lokâ. Sang Kâlâ semakin dekat dengan janjinya. Dalam irâmâ yang semakin nyrepeg (terburu-buru) dan melonjak-lonjak, tergesa-gesa manusia berusaha menebus segala keburukan duniawinya meskipun sering terlambat dan kehabisan waktu. Tak ada lagi kesempatan, tak ada lagi yang bisa menolong dan menyelamatkannya dari kematian.

Sang Kâlâ sudah tak sabar lagi. Dengan nyrepeg, dijemputnya manusia, untuk mempertanggung-jawabkan hidup dan peri-lakunya. Lalu sampak-pun tiba-tiba bertalu-talu melonjak-lonjak ganas, menyentak, merenggut nyawa manusia dan seluruh kehidupan manusia seketika! Manusia meregangkan tubuhnya dalam satu sentakan terakhir. Jiwa manusia lepas dari râgâ-nya dijemput Sang Kâlâ. Lalu seketika hening, segala berakhir di sini. Semuanya, tiba-tiba kembali ke keadaannya semula. Semua yang semula ada, tiba-tiba kembali menjadi tiada. Kembali dalam keheningan abadi.

Gendhîng Cucûr Bawûk, yang melambangkan pertemuan sejoli manusia, yang dilanjutkan Paré Anôm, yang melambangkan dimulainya kehidupan muda manusia, kemudian disambut Ladrang Sri Katôn, yang mewakili kehidupan cemerlang masa muda manusia lalu berpindah menjadi Ketawang Sûkmâ Ilang, saat manusia dewasa telah menjadi renta. Dan, pada saat semuanya hendak berakhir, Ayak-ayak Talu digemakan melambangkan proses penyesalan manusia saat nyawanya hendak menghadap Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya). Lalu datanglah Sang Kâlâ menjemput, diiring Srepegan Manyurâ yang serba terburu-buru. Dan bersama dengan gema Sampak Manyurâ yang menyentak dan melonjak seketika berakhirlah seluruh kehidupan manusia di alam jânâlokâ. Gendhîng-gendhîng yang dirangkai menjadi suatu kesatuan itu, semuanya menceritakan seluruh filosofi kehidupan ritual manusia di alam jânâ-lokâ. Ini semua, merupakan rangkaian gendhîng yang bersifat sakral, dan juga merupakan suatu rangkaian gendhîng yang bersifat ritual, yang dalam waktu relatif singkat, menceritakan seluruh proses kehidupan manusia, sejak dilahirkan sampai mati. Sejak dari tiada, kembali menjadi tiada. Menyadarkan manusia yang masih hidup, bahwa ia tak lebih dari setitik debu tanpa arti di hadapan Sang Murbèng Jagat Râyâ (Sang Penguasa Jagat Raya).

Gendhîng Talu, biasanya dimainkan sesaat menjelang pagelaran wayang purwa. Jika dimainkan secara lengkap, seluruh rangkaiannya akan memakan waktu sekitar satu jam. Karenanya, pada saat dimainkan, harus diatur waktunya sedemikian rupa, sehingga pada saat berakhirnya permainan Gendhîng Talu waktu menunjukkan saat yang tepat untuk memulai pagelaran wayang purwa, yaitu sekitar pukul sembilan malam (jika pagelaran wayang dilakukan malam hari) atau, pukul sembilan pagi (jika pagelaran wayang dilakukan pada siang hari).

Gendhîng Talu, selalu berupa suatu rangkaian komposisi yang disusun atas beberapa gendhîng yang berlainan pola. Rangkaian komposisi Gendhîng Talu yang paling banyak dimainkan orang sejak ratusan tahun yang lampau, adalah pola gendhîng yang disusun atas Gendhîng Cucûr Bawûk, minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Paré anôm lalu minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Ladrang Sri Katôn kemudian lalu minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Ketawang Sûkmâ Ilang, disambut minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Ayak-ayak Talu kemudian minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Srepegan Manyurâ dan seterusnya minggah (dipindahkan/dilanjutkan) ke Sampak Manyurâ secara mendadak dan tiba-tiba, diakhiri dengan digunakannya nada-nada yang monoton selama beberapa saat.

Urutan pola Gendhîng Talu yang lazim dimainkan orang secara lengkap (pada pagelaran wayang kulît pûrwâ), jika diurutkan, akan membentuk pola urutan sebagai berikut: pola gendhîng – pola ladrang – pola ketawang – pola ayak-ayak – pola srepegan – pola sampak. Ini, merupakan urutan pola yang bersifat baku. Namun demikian, pada masa sekarang seringkali pada saat memasuki pola srepegan, seringkali disisipi permainan gamelan yang berpola palaran, misalnya: Palaran Pangkûr atau, disisipi permainan gamelan yang berpola srepegan lainnya, misalnya, disisipi Srepegan Peksi Manyurâ.

Pada pagelaran wayang lainnya, misalnya pada pagelaran wayang wông (wayang orang), seringkali rangkaian Gendhîng Talu hanya dimainkan sebagian saja. Hal ini, biasanya lebih disebabkan adanya kebutuhan akan pemendekan waktu permainan. Bahkan, seringkali dimainkan secara sangat pendek, yaitu menggunakan pola urutan ayak-ayak – pola srepegan – pola sampak. Ini merupakan urutan pola yang paling pendek.

Pola garap Gendhîng Talu, sangat berbeda dengan pola garap gendhîng pambukâ pagelaran yang mengawalinya. Pada garap Gendhîng Talu, meskipun permainan wayang belum dimulai, tetapi pola garap-nya sudah menggunakan pola khas garap wayangan. Misalnya, menggunakan pola permainan kendhang kosèk wayangan yang  menerapkan moda irâmâ kosek wayangan, yang merupakan irâmâ khas wayangan yaitu ber-irâmâ tanggûng (agak cepat) menggunakan ricikan kecèr wayangan (ricikan kecèr kombali) pada saat permainan gendhîng-gendhîng-nya. Karena Gendhîng Talu pada dasarnya bermakna sangat filosofis dan sakral, maka sewaktu memainkannya, biasanya dilakukan secara sangat khusuk.

Pada saat permainan Gendhîng Talu dimulai, biasanya semua lampu penerangan panggûng pagelaran, umumnya masih dinyalakan secara terang benderang. Namun, pada saat permainan Gendhîng Talu mencapai puncaknya, yakni saat dimainkan Sampak Manyurâ yang ber-irâmâ sesegan (sangat cepat), biasanya seluruh lampu penerangan akan dipadamkan dan hanya lampu geber/kelîr wayang atau penerangan dhalang saja yang tetap menyala. Sesaat kemudian, jika dhalang sudah duduk di tempatnya rangkaian akhir Gendhîng Talu akan dihentikan secara mendadak dalam nada-nada yang monoton selama beberapa detik. Suasana, akan menjadi hening tanpa suara sedikitpun selama beberapa saat. Lalu dhalang akan memberikan âbâ-âbâ bersiap diri, menggunakan cempâlâ disahut dengan kethekan ricikan kendhang. Bunyi gedhôg yang dilakukan menggunakan cempâlâ, kemudian memberikan tanda bukâ, diikuti bunyi kendhang. Gendhîng Ayak-ayak Manyurâ berbunyi. Pagelaran-pun dimulai. Menceritakan sepersejuta kehidupan manusia di alam jânâ-loka.


Ramyang-ramyang lir anglayang kang rinasa,
Sumebyar nuturake rasaning nala,
O, Gusti kula panguwasaning jagat,
Pangucaping rasa kang cinatur ing nala,
Rumangsa yen kadi wus lampus,
Mangka aneng alam janaloka kang rinengga,
Karsa myang karyaning manungsa,
Kaya-kaya tan ana pigunane,
Apepanjang punjung dedongane,
Dhuh Gusti paringa pangaksami.


Begitulah, seakan terasa bagai sembilu menyayat hati. Perasaan galau dan sedih, bercampur baur dengan penyesalan, saat mengetahui segalanya hendak berakhir. Saat waktu yang kita miliki, dihentikan putaran jantra-nya oleh Sang Penguasa Jagat Raya.

Bagai melayang-layang yang terasa. Merebak mengikuti rasa hati. O Gusti, junjungan hamba Sang Penguasa Jagat. Inilah ucapan perasaan yang terucap di dalam hati. Rasanya seakan seperti telah mati. Pada hal kita masih ada di dalam alam fana yang serba penuh hiasan kehendak dan nafsu manusia. Semua itu, bagai tak berguna lagi. Panjang dan bertumpuk-tumpuk doa yang dipanjatkan. Duh Gusti, ampunilah hamba.

________________________

[1] Terjemahan: O, Hamba hendak melantunkan (membaca) doa Mantra Manyura, Samar bagai tak nampak wujudnya, Terdengar lamat-lamat di malam hari, Samar bagai dibawa angin, O, Meresap di dalam hati sanubari, Berhiaskan mantera-mantera (doa-doa), Tak ragu (lagi) akan cemerlang cahaya jiwa, (yang) Menerangi di saat sepi, O, Di antara sadar dan tak sadar, (Hamba nyatakan) Duh Gusti (Tuhan) jimat kehidupan hamba, Hamba menginginkan menjadi seperti yang hamba kehendaki, O.

[2] Dari mana dan akan ke mana manusia. Sebuah pemahaman, akan seluruh cerita kehidupan manusia, dari sejak manusian belum ada, saat manusia sudah ada, dan saat manusia kembali tiada.

[3] Sayur yang menggunakan bahan buah paria muda meskipun sudah dimasak, akan tetap terasa sangat pahit. Meskipun terasa pahit, sayur buah paria muda ini tetap memiliki rasa sedap yang luar biasa jika dimakan. Sayur paria muda, merupakan salah satu sayur yang sangat disukai oleh kalangan masyarakat tradisional suku-bangsa Jawa dan Sunda. Makanan bakso tahu, yang umumnya sangat disukai dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia misalnya, seringkali juga menggunakan paria muda sebagai salah satu kelengkapan sayurnya selain menggunakan sayur kol dan kentang rebus.

MENGENAL KEMBALI PAGELARAN WAYANG KULIT

 

MENGENAL KEMBALI
PAGELARAN WAYANG KULIT PURWA

Bram Palgunadi 
11 Desember 2012 pukul 9:44


Saat pertama kali mendengar kata 'wayangan' atau 'karawitan wayangan', kebanyakan orang berpikir, ini merupakan suatu pagelaran yang rumit, sukar, penuh ritual, mistis, dan memerlukan keterampilan dan pengalaman luar biasa untuk bisa memainkannya. Ini merupakan pandangan umum, yang lazim kita temukan pada kebanyakan orang di kalangan masyarakat awam. Benarkah demikian?

Sebagian dari pendapat ini, harus diakui saja, memang benar. Tetapi, ada sejumlah besar hal, yang mungkin saja tidak diketahui khalayak ramai, yang sebenarnya mencerminkan bahwa memainkan wayang kulit, khususnya wayang kulit purwa tidaklah seseram dan sesukar yang dibayangkan orang. Misalnya, adanya pandangan di kalangan masyarakat luas, bahwa gendhing-gendhing pengiring pagelaran wayangan, merupakan iringan yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan keterampilan, kemampuan khusus, pemahaman, dan bahkan pengetahuan khusus; untuk bisa menjalankannya. Pandangan ini, tentu saja berakibat timbulnya pendapat, bahwa pagelaran wayang kulit purwa merupakan pagelaran yang maha sukar, dan karenanya lalu memerlukan 'orang-orang pilihan dengan kemampuan dan keahlian khusus'. Pendapat inilah yang hendak 'dibalikkan'. Karena nyatanya, sebuah pagelaran wayang kulit purwa tidaklah selalu merupakan suatu pagelaran yang maha sukar.

Jadi, pertanyaannya, sebenarnya apa saja yang merupakan 'kebutuhan minimal' (minimum requirement) untuk bisa melaksanakan suatu pagelaran wayang kulit purwa? Di bawah ini, dijelaskan secara singkat jawabnya. Juga termasuk berbagai renik-renik yang merupakan kekhasan pagelaran wayang kulit purwa.

 

Gendhing pengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa

Pagelaran wayang kulit purwa memerlukan sejumlah rangkaian gendhing sebagai pengiring seluruh pagelaran. Dalam hal ini, kebutuhan minimal jenis gendhing yang harus dikuasai, dan sedapat-dapatnya dihafalkan; adalah: 1) ladrang, 2) ketawang, 3) lancaran, 4) ayak-ayak, 5) srepegan, dan 6) sampak. Meskipun demikian, keenam jenis gendhing ini, bisa diperas/diringkas menjadi tiga jenis gendhing, yakni 1) ayak-ayak, 2) srepegan, dan 3) sampak. Karena suatu pagelaran wayang kulit purwa lazimnya dibagi atas tiga babak besar atau tiga pathet; yaitu 1) Babak Pathet Nem, 2) Babak Pathet Sanga, dan 3) Babak Pathet Manyura; maka diperlukan sekurang-kurangnya tiga ayak-ayak, tiga srepegan, dan tiga sampak; masing-masing untuk memenuhi keperluan iringan untuk ketiga babak pagelaran wayang kulit purwa, yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Jadi ringkasnya, yang diperlukan adalah penguasaan atas 3 × 3 gendhing = 9 gendhing.

Gendhing-gendhing utama yang harus dikuasai untuk bisa melakukan pagelaran wayang kulit purwa, adalah ayak-ayak, srepegan, dan sampak. Menggunakan ketiga jenis gendhing ini, seluruh pagelaran wayang kulit purwa sudah bisa dilaksanakan. Karena, pagelaran wayang kulit purwa terdiri dari tiga babak (pathet), maka jenis gendhing yang harus dikuasai adalah sebagai berikut.

  • Iringan minimum untuk babak Pathet Nem, adalah: Gendhing Ayak-Ayak Nem, Srepegan Nem, dan Sampak Nem.
  • Iringan minimum untuk babak Pathet Sanga, adalah: Gendhing Ayak-Ayak Sanga, Srepegan Sanga, dan Sampak Sanga.
  • Iringan minimum untuk babak Pathet Manyura, adalah: Gendhing Ayak-Ayak Manyura, Srepegan Manyura, dan Sampak Manyura.

Jadi, kebutuhan minimum (dan bersifat wajib) untuk bisa mengiring suatu pagelaran wayang kulit purwa yang lengkap, sebenarnya hanyalah sembilan gendhing, yakni terdiri atas tiga gendhing yang berbeda untuk tiga pathet yang berbeda. Ya, hanya itu!

Di luar kesembilan gendhing tersebut di atas, karena merupakan pagelaran wayang kulit purwa, maka haruslah dilengkapi dengan permainan Gendhing Talu Wayangan, yang juga bisa dimainkan dalam kondisi 'minimum requirement'.

 

Pagelaran wayang kulit purwa di masa lampau. Seringkali merupakan bagian langsung dari suatu kehidupan tradisi dan ritual masyarakat.


Tangga-nada yang digunakan

Secara tradisional, suatu pagelaran wayang kulit purwa diiringi memakai gendhing-gendhing Laras Slendro (bertangga-nada Slendro). Bahkan, di masa lampau, suatu pagelaran wayang kulit purwa hanya diiringi gendhing-gendhing Laras Slendro.[1] Karena itulah penyebutan 'babak' (pathet) yang digunakan pada pagelaran wayang kulit purwa, juga mengacu pada penyebutan babak (pathet) Laras Slendro; yaitu Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura. Adapun iringan gamelan Laras Pelog, secara tradisional dulunya dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang kulit madya,[2] wayang gedhog, dan wayang beber. Namun, perubahan jaman rupanya besar pengaruhnya juga. Karenanya, pada jaman sekarang, pagelaran wayang kulit purwa umumnya menggunakan seperangkat gamelan Laras Slendro dan Laras Pelog. Meskipun demikian, penggunakan gendhing Laras Slendro, tetap sangat dominan dan merupakan mayoritas. Dalam pemahaman ini, pemakaian gendhing Laras Pelog pada suatu pagelaran wayang kulit purwa, dapatlah dikatakan hanya sebagai sisipan atau pelengkap semata.


Total theater

Pagelaran wayang kulit purwa, merupakan suatu pagelaran 'total theater', yang amat sangat berbeda dengan pertunjukan barat (Eropa). Pada pagelaran wayang kulit purwa, penonton berada di dua sisi panggung pagelaran, yakni di depan dan belakang; atau berada di depan dan belakang kelir (layar wayang). Selain itu, seluruh unsur yang ada di sekeliling dan di sekitar panggung pagelaran, merupakan bagian dari pagelaran wayang. Karena karakternya yang seperti itu, maka seluruh penonton, pemain, dan bahkan orang-orang yang berada di sekitar tempat pagelaran (misalnya orang-orang yang berjualan makanan, minuman, mainan anak-anak, cindera-mata, atau lainnya), termasuk seluruh lingkungannya; merupakan bagian langsung dari pertunjukannya. Karena hal ini pula, maka penerapan 'duduk lesehan' menggunakan tikar (bukan kursi), merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi, guna membangun suasana total theater dan juga suasana tradisional. Suasana total theater ini akan semakin nyata, jika pagelaran dilakukan di tempat terbuka yang dilengkapi 'tarub' atau di pendhapa. Pagelaran yang bersifat 'total theater', menghasilkan suasana tidak formal, semarak, menyenangkan, penuh kebersamaan, bebas, dan santai (relax); dengan berbagai aktifitas lainnya, berlangsung bersama-sama pagelaran wayang. Termasuk kegiatan makan, minum, berbincang, merokok, bercengkerama, dan bahkan tidur.


Lukisan suatu pagelaran wayang kulit purwa di masa lampau. 
Menyenangkan dan penuh kenangan.

Karakter garap gendhing dan karawitan wayangan pada pagelaran wayang kulit purwa

Garap gendhing pada suatu pagelaran wayang kulit purwa, dapat dikatakan amat sangat berbeda, jika dibandingkan dengan garap gendhing yang dilakukan untuk pagelaran karawitan biasa atau iringan tari (beksan). Penjelasan selanjutnya, menjelaskan tentang hal ini.


Diawali dengan permainan Gendhing Talu Wayangan

Hanya pada pagelaran wayang dimainkan rangkaian Gendhing Talu Wayangan. Ini juga merupakan salah satu kekhasan pagelaran wayang kulit purwa. Gendhing Talu Wayangan, dimainkan sesaat sebelum pagelaran wayang dimulai. Gendhing Talu Wayangan, merupakan 'ringkasan' dari seluruh perjalanan hidup manusia, sejak ia belum ada, dan masih dalam bentuk mimpi indah orang tuanya, sampai ia lahir, menjadi remaja, menjadi dewasa, dan akhirnya kembali tiada, saat ia menghadap Sang Penguasa Jagat Raya. Satu-per-sekian juta dari ringkasan cerita perjalanan hidup manusia itulah, yang nantinya akan di-pagelar-kan selama semalam suntuk.


Menerapkan permainan ‘kosek wayangan’

Salah satu karakter khas garap karawitan yang hanya ada pada karawitan wayangan, adalah penerapan garap 'kosek wayangan', yang diperankan oleh ricikan kendhang. Kekhasan garap kosek wayangan, terletak pada pengaturan kecepatan irama/laya yang relatif lebih cepat daripada laya tamban, tetapi berada di bawah laya sesegan. Dalam beberapa hal, laya ini sering disalah-artikan dan di sebut sebagai irama/laya tanggung. Sebenarnya, laya/irama kosek wayangan bukanlah laya/irama tanggung. Karena sebutan 'kosek wayangan' tidak hanya berkait erat dengan kecepatan permainan (irama/laya), melainkan dengan pola permainan kendhang yang sangat khas, dan dilengkapi dengan 'kecer wayang', serta eksploitasi suara 'keplok' dan 'alok' para pradangga. Pengaturan laya/irama permainan gendhing wayang, menerapkan 'irama kosek' yang sangat khas wayangan.

Secara ringkas, irama kosek adalah suatu garap gendhing yang menerapkan kecepatan (laya/irama) tertentu sedemikian rupa, sehingga selama permainannya, gendhing dapat dilengkapi permainan irama 'keplok' (tepukan tangan) atau 'kecer'. Laya/irama kosek, merupakan suatu laya/irama yang berada di antara irama/laya seseg dan tamban (lambat). Indikasi bahwa irama kosek sudah tepat penerapannya, adalah saat dilengkapi 'keplok' atau bunyi 'kecer', pradangga-nya merasa nyaman dan enak terdengar di telinga. Kecepatan laya/irama kosek wayangan, kira-kira setara dengan irama/laya ciblon, dengan dominasi suara permainan kendhang yang sangat khas.

 

Melihat pagelaran wayang kulit purwa, seakan seperti melihat kembali
seluruh kehidupan kita. 


Memainkan ‘kecer wayang’ dan ‘keplok’ sepanjang malam

'Kecer wayang' merupakan salah satu ricikan gamelan yang umumnya hanya digunakan pada pagelaran wayangan, dan berperan sebagai kelengkapan permainan yang menerapkan laya/irama kosek wayangan. Kecer wayang seringkali juga dilengkapi dengan 'keplok'. Dalam sejumlah kasus, 'keplok' sering menggantikan peran kecer wayang. Misalnya, jika ricikan kecer wayang tidak tersedia pada gamelan yang digunakan sebagai pengiring pagelaran wayang. Penggunaan kecer wayang dan/atau keplok, lazimnya dimainkan para pradangga hampir di seluruh waktu pagelaran yang menerapkan pola permainan 'kosek wayangan' dan 'ciblon'; kecuali pada laya/irama tamban, saat sirep, janturan, sampak; dan pada garap yang berhubungan dengan gendhing 'tlutur', serta ketawang.

  

Rangkaian gendhing yang berubah-ubah secara dinamis

Tidak seperti pada pagelaran karawitan biasa, yang lazimnya menerapkan rangkaian gendhing yang teratur dan menerapkan irama/laya yang umumnya tamban. Rangkaian gendhing yang dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang kulit purwa lazimnya menyesuaikan diri dengan keperluan pagelaran. Termasuk dimungkinkan mengganti, menghentikan, atau memindahkan gendhing ke gendhing lainnya secara tiba-tiba. Dalam sejumlah hal, perpindahan atau pergantian gendhing bahkan dimungkinkan dan boleh dilakukan, meskipun gendhing yang sedang dimainkan belum selesai (belum mencapai akhir permainan atau belum sampai pada gong).

 

Keprak dan gedhog dhalang sebagai pemberi aba-aba utama

Pada pagelaran karawitan, hampir seluruh aba-aba diberikan oleh ricikan kendhang. Sebaliknya, pada pagelaran wayang kulit purwa, 'gedhog' dan 'keprak', memegang peran yang amat sangat dominan, utamanya dalam hal sebagai pemberi aba-aba dan perintah tertentu. Sejumlah tanda atau aba-aba yang diberikan menggunakan gedhog atau keprak, lazimnya merupakan bagian awal dari tanda atau aba-aba yang diberikan oleh kendhang. Dalam pengertian ini, hampir semua tanda atau aba-aba yang diberikan oleh kendhang, bisa dilakukan dan digantikan perannya oleh gedhog dan keprak; termasuk pengaturan irama/laya, pengaturan kecepatan permainan, tanda berhenti, tanda perpindahan, tanda mulai memainkan, tanda menghentikan permainan, tanda mengubah pola permainan karawitan menjadi irama rangkep atau sebaliknya, tanda pembicaraan/dialog selesai, tanda sirepan selesai, tanda meminta sesegan, tanda selesai janturan, tanda penghentian dalam pola sesegan atau gropak, tanda mengubah pola permainan menjadi 'kebar' atau 'kiprah', dan sebagainya. 

Tanda atau aba-aba yang merupakan penggalan atau potongan tanda atau aba-aba yang diberikan kendhang, lazimnya merupakan bagian depan tanda atau aba-aba kendhang. Dalam sejumlah kasus, tanda atau aba-aba berupa suara gendhog dan/atau keprak, bisa juga dilengkapi dengan suara/vokal dhalang, yang lazimnya dalam bentuk 'kombangan'.

  

Sesegan dan sirepan

Hanya di pagelaran wayang ada penerapan pola sesegan dan sirepan pada garap karawitan-nya. Sesegan, lazimnya digunakan sebagai pertanda sudah selesainya penataan wayang di layar (geber), dan akan segera dilanjutkan dengan 'janturan', yang lazimnya merupakan narasi dhalang yang menceritakan sesuatu suasana, kondisi, atau cerita. Janturan dilaksanakan setelah dilakukan sirepan.

  

Suwuk sesegan atau suwuk gropak

Adalah pola penghentian permainan gendhing yang dilakukan dalam kecepatan tinggi, menerapkan tabuh sora (gamelan dibunyikan atau ditabuh sangat keras), serta penghentian yang dilakukan secara mendadak (tiba-tiba). Pola ini, biasanya hanya dikenal di permainan karawitan wayangan.

 

Garap kebar dan kiprah dengan surak dan senggakan

Garap karawitan wayangan yang menerapkan garap kebar atau kiprah, biasanya dilengkapi dengan surak dan senggakan yang riuh; bahkan bisa saja penuh dengan teriakan. Hal ini, hanya ada di karawitan wayangan


Garap kebar dan kiprah dalam laya/irama seseg

Garap karawitan wayangan saat kebar atau kiprah, biasanya jauh lebih cepat laya/irama-nya, jika dibandingkan dengan pada pagelaran karawitan biasa, atau jika dibandingkan dengan pada pagelaran tari (beksan).

  

Sirepan yang sangat tamban

Pada saat sirepan, hanya ricikan gender pambarung, rebab, gender panembung (slenthem), kendhang, kethuk, kenong, kempul, dan gong; yang dimainkan dalam irama/laya yang sangat lambat. Ricikan/instrumen lainnya tidak dibunyikan. Seluruh ricikan yang tetap dibunyikan ini, biasanya dimainkan dalam pola irama/laya yang relatif sangat tamban (sangat lambat). Sirepan lazimnya diterapkan saat dhalang sedang melakukan 'janturan'.

 

Semua pendukung pagelaran menghadap layar wayang

Pada pelaksanaan pagelaran wayang kulit purwa tradisional, seluruh pradangga, pesindhen, wiraswara, dan dhalang; duduk menghadap layar wayang (geber). Pertimbangan utamanya adalah, bahwa ini merupakan pagelaran wayang kulit purwa, dan sama sekali bukan pagelaran sindhen, wiraswara, pradangga, atau lainnya.

 

Dhalang adalah tokoh sentral dalam pagelaran wayang kulit purwa

Tokoh sentral dan utama dalam suatu pagelaran wayang kulit purwa, adalah dhalang. Karenanya, seharusnya tidak boleh dan tidak selayaknya ada orang lain yang dalam pagelaran wayang kulit purwa bertindak menggantikan peran dan fungsi dhalang, meskipun hanya sejenak atau hanya sebentar; termasuk pagelaran campur-sari, dhagelan, lawak, dhang-dhutan, penyanyi, atau lainnya. Jika dhalang sampai bersedia digantikan perannya sebagai tokoh sentral, meskipun hanya sebentar atau beberapa saat, maka hal ini sama saja dengan merendahkan martabat, kehormatan, dan profesinya.


Bayang-bayang wayang, adalah refleksi seluruh kehidupan kita,
saat kita masih berada di alam jana-loka.


 
 

Mengeksploitasi suasana dan emosi

Pada pagelaran wayang kulit purwa, suasana memegang peran yang sangat penting. Karenanya, mengeksploitasi suasana (oleh dhalang) menjadi salah satu faktor yang memegang peran sangat penting, termasuk 'mempermainkan emosi' penonton.


Pagelaran delapan jam

Pagelaran wayang kulit purwa, jika dilaksanakan secara lengkap dan tradisional, akan memakan waktu semalam suntuk (atau sehari suntuk), selama kurang-lebih delapan jam. Yaitu, dari sejak sekitar jam sembilan malam (atau jam sembilan pagi), sampai sekitar jam empat subuh hari berikutnya (atau jam empat sore). Namun, harap diketahui, bahwa lama seluruh pagelarannya sebenarnya bisa lebih dari delapan jam, jika dilaksanakan secara lengkap. Jika pagelaran wayang kulit purwa dilakukan pada malam hari, pagelaran bisa diawali dan dilengkapi dengan permainan 'gendhing sore' atau 'gendhing pahargyan tamu', lalu dilanjutkan dengan pagelaran 'karawitan wayangan', dan pagelaran Gendhing Talu Wayangan.

 

Pembagian waktu berdasar pathet

Waktu pagelaran wayang kulit purwa, dibagi menjadi tiga babak utama, yaitu:

a) Pathet Nem
b) Pathet Sanga
c) Pathet Manyura
 
Secara ringkas, dapat dikatakan bahwa pembagian waktu pada pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan semalam suntuk, adalah a) waktu awal (awal malam hari), b) waktu sekitar tengah malam, dan c) waktu menjelang pagi hari. Pembagian waktu ini, berlaku tidak saja untuk pagelaran-nya, tetapi juga berlaku untuk pemilihan gendhing yang dipergunakan selama pagelaran.

Meskipun demikian, jika dimainkan secara lengkap, maka urutan pathet pada suatu pagelaran wayang kulit purwa adalah sebagai berikut.

a) Pathet Nem
b) Pathet Lindur
c) Pathet Sanga
d) Pathet Nyamat
e) Pathet Manyura

Sebagai catatan, pada pagelaran wayang kulit purwa, Pathet Lindur dan Pathet Nyamat tidak selalu digunakan.

 

Mengintegrasikan berbagai hal

Pagelaran wayang kulit purwa, pada dasarnya mengintegrasikan banyak hal, antara lain bahasa, sastra, komunikasi, musik iringan (karawitan wayangan), cerita, narasi, skenario, suasana psikologis, termasuk emosi penonton, keterampilan, kemampuan olah vokal, dialog, tembang (nyanyian), syair, serta sudah barang tentu juga tari dan gerak wayang (sabetan).

 

Menyenangkan, semarak, dan mencekam

Pagelaran wayang, merupakan suatu pagelaran yang menyenangkan banyak pihak, tidak hanya penontonnya, tetapi juga para pendukung pagelaran dan semua orang yang berada di sekitarnya. Ini merupakan salah satu dampak dari pendekatan 'total theater' pada pagelaran wayang kulit purwa. Meskipun demikian, suatu pagelaran wayang kulit purwa juga bisa merupakan suatu pagelaran yang 'mencekam', dan mempengaruhi emosi penontonnya. Misalnya, jika cerita dan drama yang ditampilkan sedemikian memikat penontonnya.

  

Media untuk merenungkan makna kehidupan

Pagelaran wayang kulit purwa, dapat berfungsi sebagai media refleksi kehidupan nyata manusia. Hal inilah yang menjadi penyebab mengapa seseorang yang pernah sekali saja menikmati pagelaran wayang kulit purwa, jika ia mengerti dan memahami isi cerita dan suasananya, maka ia akan cenderung 'kecanduan' dan merindukan untuk kembali menonton pagelaran wayang.

Pada pagelaran wayang kulit purwa, apa yang kita lihat di layar wayang, sebenarnya bukanlah pagelaran yang sesungguhnya. Sebaliknya, pagelaran yang sesungguhnya sebenarnya ada di alam imajinasi kita. Adapun apa yang kita lihat di layar wayang, sebenarnya lebih berperan sebagai pemicu imajinasi kita. Sedangkan tokoh-tokoh wayang tertentu yang ditampilkan di layar wayang, seringkali oleh penontonnya merefleksikan dan dipersonifikasikan sebagai dirinya. Demikian pula, peristiwa yang diceritakan. Karena itu pula, maka hubungan emosional antara tokoh yang ditampilkan dengan kita sebagai penontonnya, bisa menjadi amat sangat erat, dan bahkan bisa membawa kita seakan-akan sebagai tokoh yang sedang ditampilkan itu.


Bisa dimainkan dalam tingkat kerumitan dan kesulitan yang berbeda

Melakukan pagelaran wayang kulit purwa, bisa dilakukan dalam bentuk yang amat sangat sederhana, dan secara bertahap menjadi semakin sukar dan semakin rumit. Semua itu, bisa dilakukan sesuai dengan tingkat pemahaman dan tingkat penguasaannya. Artinya, pada tahap belajar, bisa saja pagelaran wayang dilaksanakan dalam bentuk yang amat sangat sederhana dan mudah. Hal inilah yang seringkali tidak disadari, baik oleh pelatih maupun oleh siswa.

Pagelaran wayang kulit purwa, juga bisa dimainkan dalam penggal waktu yang relatif amat sangat pendek. Misalnya, suatu pagelaran wayang kulit purwa bisa dimainkan dalam pola penggal waktu selama satu jam, atau bahkan kurang dari satu jam. Hal ini, biasanya diterapkan bagi mereka yang sedang dalam tahap belajar, atau pagelaran wayang kulit purwa yang dilaksanakan dalam rangka peragaan.

Seperti telah disinggung selintas di awal bahasan, suatu pagelaran wayang kulit purwa yang dimainkan secara lengkap sekalipun, sebenarnya bisa dimainkan hanya dengan tiga jenis gendhing; yaitu ayak-ayak, srepegan, dan sampak. Karena itulah, maka belajar melakukan pagelaran wayang kulit purwa dapat dikatakan tidaklah sesukar yang dibayangkan orang. 

_______________

[1] Pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa yang boleh dikatakan masih asli, justru dapat dilihat pada pagelaran wayang kulit purwa versi Bali, yang diiringi ricikan gender Laras Slendro. Sebagai informasi, pagelaran wayang kulit purwa versi Jawa, pada masa lampau berkembang pada masa perkembangan agama Hindhu dan Buddha; sebagai bagian dari pelaksanaan ritual adat dan kepercayaan. Tetapi, setelah agama Islam masuk dan berkembang di Pulau Jawa, sebagian penduduk yang beragama Hindu, beserta berbagai bentuk kesenian asli Jawa, termasuk pagelaran wayang kulit purwa, para pegiat dan masyarakat pendukung keseniannya, 'menyelamatkan diri' ke arah timur dan menyeberang ke Pulau Bali. Sebagai catatan, bentuk asli wayang kulit Jawa pada masa awal, sama dengan dengan bentuk wayang kulit versi Bali (yang sampai sekarang masih bisa dilihat dan relatif tidak banyak berubah bentuknya).

[2] Pagelaran wayang kulit madya, lazimnya membawakan cerita wayang yang didasarkan atas berbagai cerita yang berkembang seusai Perang Barata-Yudha. Batas awal yang bisa dikatakan sebagai 'bagian transisi' antara wayang kulit purwa dan wayang kulit madya, adalah pagelaran wayang yang menceritakan episode setelah Pandhawa memenangkan Perang Barata-Yudha. Misalnya, cerita 'Parikesit Jumeneng Nata'. Wayang Madya adalah wayang kulit yang diciptakan oleh Mangkunegara IV sebagai penyambung cerita Wayang Purwa dengan Wayang Gedog. Cerita Wayang Madya merupakan peralihan cerita Purwa ke cerita Panji. Salah satu cerita Wayang Madya yang terkenal adalah cerita Angling-Darma. Wayang madya tidak sempat berkembang di luar lingkungan Pura Mangkunegaran. Cerita Wayang Madya menceritakan sejak wafatnya Prabu Yudayana, sampai Prabu Jaya-Lengkara naik tahta. Cerita Wayang Madya ditulis oleh R. Ngabehi Tandakusuma, dengan judul 'Pakem Ringgit Madya' yang terdiri dari lima jilid, dan tiap jilid, berisi 20 cerita atau lakon. Wayang Madya (Jawa) adalah wayang yang menggunakan unsur 'cerita sesudah zaman purwa'. Cerita itu mengisahkan para raja Jawa yang dianggap keturunan Pandawa. Sementara itu wayang gedog, wayang klitik, dan wayang beber (ketiganya dari Jawa), juga wayang gambuh dan wayang cupak dari Bali, melakonkan cerita Panji.