04 Oktober 2023

PAGELARAN WAYANG KULIT PERTAMA BERSAMA SEMBILAN BIDADARI KECIL

 

Bram Palgunadi






Ini, merupakan suatu peristiwa, yang benar-benar tak akan pernah bisa dilupakan sepanjang hayat saya. Amat sangat indah, amat sangat dirindukan, selalu terkenang, selalu membayang di pelupuk mata saya, dan membuat saya selalu ingin mengulanginya. Peristiwanya terjadi pada saat saya masih duduk di bangku SMPN-1 Kota Sala-Tiga, sekitar tahun 1966. Saat itu, baru beberapa bulan saya belajar memainkan Ricikan Gamelan Jawa, di Desa Karang-Pete, yakni di tempat-tinggal guru karawitan saya, Pak Harja Prewita. Bersama sahabat-sahabat kecil saya, ada sekitar lima-belas orang; yang semuanya merupakan para penabuh gamelan; juga ada sembilan sahabat puteri, yang sedang belajar menjadi pesindhen; kita semua bersepakat hendak melakukan pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk, yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan upacara ritual adat 'Merti Desa' (Bersih Desa).

Pengalaman saya itu, tak bisa dibandingkan dengan pengalaman lain yang mana pun, karena semuanya terpateri di dalam memori saya, dan tak bisa dilupakan sama sekali, serta dikenang terus sepanjang hayat. Bahkan, suasana riuhnya hari pagelara, suara gamelannya, suara jerit, teriakan, dan tawa; sahabat-sahabat kecil saya, suara alunan tembang sembilan bidadari kecil sahabat-sahabat saya, pemandangan pada hari pagelaran, dan riuhnya para penonton, serta segala keramaian yang terjadi malam itu; semuanya sekarang masih bisa saya lihat dan saya rasakan, seperti semua itu baru terjadi hari kemarin; meskipun semua itu sudah berlangsung 57 tahun yang lalu...

Cerita ini, merupakan peristiwa yang terjadi pada sekitar tahun 1966, di Kota Sala-Tiga, saat penulis bersama sabahat-sahabat kecil penulis, untuk pertama kalinya naik panggung, menabuh gamelan untuk mengiringi sebuah pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk. Peristiwanya terjadi di Desa Karang-Pete. Saat itu, penulis masih duduk di kelas dua, Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 (SMPN-1), Sala-Tiga. Menyenangkan sekali peristiwanya. Karena itulah peristiwa itu menjadi kenangan tak terlupakan sepanjang hayat. Artikel ini, merupakan kutipan (dengan sedikit disunting, untuk memperbaiki kalimat dan format tulisnya) dari catatan dalam situs facebook penulis, yang mempunyai judul yang sama.

Kala itu, sekitar tahun 1966. Saya masih anak-anak, baru berumur sekitar 14 tahun, dan masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama Negeri I (SMPN-I). Lokasi sekolah saya, di Jl. Kartini, Kota Salatiga. Selama tinggal di Kota Sala-Tiga itulah saya belajar menabuh gamelan. Pertama kali belajar menabuh gamelan, saya ikut bergabung dengan para pegawai PN Perhutani,[1] Brigade Planologi Kehutanan,[2] tempat ayah saya bekerja sebagai Kepala Brigade Planologi.

Kelompok para pegawai itu, membentuk grup kesenian Jawa di kantor, dan berlatih secara rutin setiap hari Jum’at siang, seusai sholat Jum’at, mulai dari pukul dua siang sampai sore hari. Latihan berakhir sekitar pukul lima sore. Acara itu, berlangsung terus secara rutin selama sekitar setahun. Pertama kali, saya belajar menabuh ricikan‘saron barung’, lalu berikutnya saya belajar menabuh ricikan ‘bonang barung’.  Pada awalnya, setiap kali latihan karawitan itu, saya selalu ditemani ibu saya. 3 Ibu saya waktu itu, juga belajar menabuh gamelan. Biasanya beliau menabuh ricikan bonang barung. Sedangkan saya menabuh ricikan saron barung.

Pelatih karawitan kelompok para pegawai itu, adalah Pak Hardja Prewita, seorang nayaga wayang kulit purwa senior dari Desa Karang-Pete. Seperti lazimnya siswa yang baru saja belajar menabuh ricikan gamelan, kepada saya dan para  pegawai yang ikut latihan karawitan, untuk pertama kalinya diperkenalkan sejumlah gendhing standard’. Misalnya, Lancaran Manyar-Sewu dan Lancaran Ricik-ricik, kemudian juga diperkenalkan dengan Gendhing Ladrang Slamet; yang pada masa selanjutnya, saya agak bingung, saat di tempat lain Gendhing Ladrang Slamet ini, disebut Ladrang Wilujeng.


Bayang-bayang dalam pagelaran wayang kulit purwa, membuat kita bisa merenungkan tentang makna hidup kita di alam jana-loka. (Sumber: Foto koleksi petulis).


Setelah latihan karawitan berlangsung sekitar sebulan, kepada kita semua diperkenalkan Gendhing Ladrang Asmarandana  dan Gendhing Ladrang Pangkur. Semuanya memakai gamelan Laras Pelog Pathet Barang, karena di kantor ayah saya itu, gamelan yang ada hanya berlaras Pelog. Itulah pertama kalinya saya  berkenalan dengan gamelan. Setelah itu, untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang cara  menabuh gamelan itu, saya lalu ikut dengan sebuah grup karawitan yang didirikan oleh Pak Hardja Prewita di Desa Karang-Pete. Grup karawitan itu, namanya ‘Laras Mudha Irama’. Anggautanya tentu saja anak-anak sebaya saya.  Latihannya dilakukan di rumah Pak Hardja Prewita, di Desa Karang-Pete, dua kali seminggu, setiap hari Rabu malam dan Sabtu malam.

Letak Desa Karang-Pete agak jauh dari tempat tinggal orang tua saya. Kira-kira, berjarak lima kilometer, melalui jalan raya satu-satunya di Kota Sala-Tiga, yaitu Jalan Solo (sekarang kalau tidak salah disebut Jalan Jenderal Sudirman); ke arah utara menyusuri jalan raya, lalu belok ke arah timur, dan kemudian belok ke arah utara, menyusuri Jalan Ngenthak. Menyusuri jalan ini, terus ke utara akan sampai ke Desa Karang-Pete. Jalannya agak naik-turun. Di masa itu, jalan yang menuju ke arah Desa Karang-Pete, khususnya setelah melewati turunan Jalan Ngenthak, masih merupakan jalan desa berbatu yang belum diaspal, gelap gulita jika kita melewatinya pada malam hari. Sepanjang jalan desa itu, sama sekali tidak ada lampu jalan. Lalu, juga melewati sebuah kuburan. Jika malam hari, selain gelap, juga sepi sekali. Hanya sesekali ada orang yang lewat atau berpapasan dengan orang yang naik sepeda. 

Saya, biasanya berangkat dari rumah sehabis magrib, setelah makan malam. Berpakaian kain sarung batik khas Jawa, memakai baju hangat, dan kadang-kadang memakai ikat kepala. Udara Kota Sala-Tiga saat itu terasa dingin sekali. Dari rumah sampai ke tempat tinggal guru saya, jika saya berjalan cepat, biasanya memakan waktu kira-kira tiga-per-empat jam. Karena jalannya naik-turun, maka sesampainya di rumah guru saya, biasanya badan saya berkeringat dan cukup hangat.

Setiap hari Rabu dan Sabtu malam, dengan  diterangi sebuah lampu ‘petromax’, kita  melakukan latihan karawitan sampai sekitar pukul sepuluh malam. Sesekali, latihan karawitan  berakhir sekitar pukul setengah sebelas malam.  Waktu itu, pulang malam hari ke arah pusat Kota  Sala-Tiga merupakan sebuah perjalanan yang  terasa jauh, agak melelahkan, dan agak  menakutkan bagi saya. Pertama, karena gelap  sekali. Kedua, karena harus melewati kuburan itu.  Ketiga, karena harus melalui jalan menanjak saat  melewati Jalan Ngenthak dan Jalan Solo. Keempat, jelas karena badan sudah capai. Lelah atau tidak, begitu juga takut atau tidak; jalan itu toh harus saya lalui juga. Dan, itu berlangsung  selama kira-kira tiga tahun, paling tidak ya setiap hari Rabu dan Sabtu malam. Gamelan yang dipakai latihan, adalah seperangkat gamelan besi sederhana, yang semua sumber bunyinya  berbentuk ‘wilah’ (bilah) yang lebar dan panjang. Hanya  kempul’ saja yang berbentuk bulat.


Di pedalaman Pulau Jawa, pada masa sekarang sekalipun, kita masih bisa melihat anak-anak yang belajar menjadi dhalang. (Sumber: Foto koleksi petulis).


Bahkan Gong Ageng-nya juga berbentuk dua bilah. Gong semacam ini lazimnya disebut Gong Jun’, karena di bawah kedua bilahnya diletakkan sebuah ‘jun’ tempat air berukuran besar, berbahan tembikar yang dibuat dari tanah liat. Kadang-kala juga disebut ‘Gong Anggang-Anggang’, bentuknya seperti serangga air yang lazim disebut ‘anggang-anggang’. Mungkin agak aneh, melihat hampir semua ricikannya berbentuk bilah. Bahkan Ricikan Bonang Pambarung, Bonang Panerus, Kethuk, dan Kenong; semuanya berbentuk bilah atau kotak, dengan tonjolan ‘pencu’ di tengahnya. Selama hampir tiga tahun, saya dan sejumlah sahabat-sahabat saya, berlatih memakai  gamelan besi sederhana itu. Di depan seperangkat ricikan gamelan sederhana itu, oleh guru saya dipasang sebuah ‘geber’ (layar wayang) sederhana, berbentuk empat persergi panjang, berukuran kira-kira 1,5 x 2,5 meter. Pada bagian  bawah geber wayang itu, dipasang ikatan jerami yang ‘dibongkok’ menjadi satu kesatuan dan diikat di beberapa tempat. Pada ‘bongkokan’ jerami inilah ditancapkan wayang-wayang yang dipakai latihan 'sabetan’ atau ‘jejeran’

Selama enam bulan, saya berlatih penuh semangat bersama sahabat-sahabat kecil saya, yang sebagian besar merupakan murid SMP dan SD yang tinggal di Desa Karang-Pete. Saya  merupakan satu-satunya murid guru saya, yang bukan berasal dari Desa Karang-Pete, melainkan dari Desa Nggendhongan, jauh di sebelah selatan Desa Karang-Pete. Jumlah seluruh anggauta, ada sekitar lima-belas orang. Bahan yang dilatihkan adalah gendhing-gendhing yang dipakai untuk  pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk. Misalnya, jenis Ayak-Ayak, Srepegan, Sampak, Lancaran, Ketawang, Ladrang, dan satu atau dua Gendhing Alit. Semua bahan latihan itu, dipersiapkan untuk dimainkan pada Pathet Nem, Pathet Sanga, dan Pathet Manyura; termasuk Gendhing Talu Wayangan dan Klenengan Wayangan. 

Mulai bulan ketiga, kami semua sudah berlatih karawitan memakai wayang kulit. Jadi sejak bulan ketiga itu, sifat latihannya sudah agak berubah menjadi latihan pagelaran wayang kulit secara lengkap. Semua nayaga-nya anak-anak sebaya saya, begitu juga pesindhen-nya. Pada akhir bulan keenam, guru saya pada suatu hari mengumpulkan kami semua. Beliau mengatakan, bahwa perangkat desa hendak  mengadakan ‘ruwatan merti desa’. Dan grup kesenian Laras Mudha Irama diberi kesempatan untuk melakukan pagelaran wayang kulit purwa secara lengkap semalam suntuk. Saat itu, baru terasa ada permasalahan serius. Pertama, di grup kesenian kami itu, tidak ada yang bisa memainkan ‘ricikan alusan’ seperti Rebab, Gender Pambarung, Gender Panerus, Siter, dan Gambang. Kedua, semua anggauta grup karawitan Laras Mudha Irama ini, adalah anak-anak yang masih kecil, yang selama ini berlatih memainkan ‘ricikan balungan’, dan sama sekali belum pernah melakukan pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk. Saat pembicaraan itu dilakukan, kami semua sebenarnya amat sangat gembira. Tapi juga bertanya-tanya, bagaimana  mengatasi kekurangan penabuh ricikan alusan itu. Setelah semua bahan pagelaran wayang itu dijelaskan oleh guru saya, beliau lalu menjelaskan bahwa pada pagelaran wayang kulit purwa nanti, yang bertindak sebagai dhalang bukan beliau, melainkan seorang dhalang muda dari desa lain. Sementara guru saya, akan bertindak sebagai pemain kendhang. Semula kami semua mengira beliau yang akan jadi dhalang-nya. Jika itu yang terjadi, maka justru hal itulah yang membuat kami semua khawatir, karena dengan demikian  maka pemain kendhang-nya pasti orang lain. Sedangkan kami semua, sudah terlanjur terbiasa mendengar aba-aba kendhang yang dimainkan beliau; dan sama sekali masih asing dengan aba-aba kendhang yang dimainkan orang lain. 


Dimulai dari Yogya-Karta, dulu seorang dhalang kecil yang bernama Mas Tata, sekarang sudah berubah menjadi terkenal dan mungkin saja akan menjadi dhalang profesional di masa yang akan datang. (Sumber: Foto koleksi petulis).


Setelah mendengar penjelasan beliau, kita semua menjadi lega. Pada akhir pembicaraan, beliau menjelaskan juga bahwa khusus untuk sejumlah ricikan alusan, beliau akan meminta bantuan beberapa sahabatnya yang memang nayaga profesional di Kota Sala-Tiga. Saya masih ingat benar, empat dari lima orang sahabat beliau itu, adalah Pak Hardja Tingtong, Pak Hardja Cukur, Pak Suparmin, dan Pak Musrin. 

Orang pertama, adalah Pak Hardja Tingtong. Dijuluki begitu,    karena beliau selalu naik sepeda, yang pada saat datang di tempat latihan atau di tempat pagelaran, beliau selalu membunyikan bel sepedanya. Bunyinya ‘ting tong ting tong’. Maka semua sahabat dekatnya lalu menjulukinya dengan  tambahan nama Hardja Tingtong. Orangnya bertubuh kurus, berkulit hitam legam, perokok berat, peramah, dan lucu. Saat bertemu, yang pertama saya ingat adalah beliau selalu  tersenyum lebar. Pak Hardja Tingtong, pada pagelaran wayang nanti, diminta untuk memainkan Ricikan Gender Pambarung.

Orang kedua, adalah Pak Hardja Cukur. Disebut demikian,  karena pekerjaan sehari-harinya adalah tukang cukur di Terminal Bis Kota Sala-Tiga, yang letaknya, dulu sedikit di sebelah utara Pasar Kota Sala-Tiga; dekat pertigaan antara Jalan Taman Sari, Jalan Solo, dan Jalan Dipa-Negara;  berseberangan dengan rumah dinas Wali-kota Sala-Tiga. Pak Hardja Cukur, badannya tinggi besar serta mempunyai suara yang bagus, dan bernada rendah. Biasanya beliau memainkan kendhang. Tetapi permainan kendhang-nya agak ‘ditakuti’ para nayaga lain, karena iramanya seringkali tak teratur, dan agak sukar dikuti. Tetapi, karena kendhang sudah dimainkan oleh guru saya, maka beliau akan diserahi memainkan Ricikan  Rebab. 

Orang ketiga, adalah Pak Suparmin. Beliau telah lanjut usianya, perawakan tubuhnya kurus, dan tuna-netra. Beliau ini, seorang  pemain Ricikan Siter yang bagus. Karena tempat  tinggal Pak Suparmin lebih dekat ke tempat tinggal saya, maka saya seringkali ditugasi oleh guru saya untuk menjemput dan mengantarkan pulang Pak Suparmin. 

Orang keempat, adalah Pak Musrin. Orangnya berkulit hitam legam, juga perokok berat, dan sangat rajin bekerja. Beliau,  merupakan tetangga sebelah rumah guru saya, yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang kayu, pembuat berbagai mainan anak-anak, bidak catur, dan juga pembuat Ricikan Siter. Di depan rumah beliau, terdapat mesin bubut kayu buatan sendiri, yang digerakkan menggunakan velg roda sepeda.  Roda besar ini, digerakkan memakai pedal seperti  pedal mesin jahit. [4] Pada pagelaran wayang nanti, Pak Musrin, diserahi memainkan Ricikan Gender Panerus. 

Orang kelima, saya benar-benar lupa namanya. Beliau diserahi memainkan Ricikan Gambang. Sedangkan saya sendiri, dalam pagelaran wayang kulit purwa nanti, diserahi memainkan Ricikan Saron Pambarung Panacah atau Saron Racik, yang tugasnya memainkan melodi. Putera guru saya (saya lupa namanya) yang masih duduk di kelas enam SD, dan sangat pintar memainkan Ricikan Bonang Pambarung, bersama seorang sahabat saya yang bernama Darmono, tugasnya berpasangan memainkan Ricikan Bonang Pambarung dan Bonang Panerus. Demikianlah, semua ricikan gamelan sudah terisi lengkap penabuhnya. 

Adapun sembilan putri yang menjadi murid guru saya dan  sedang belajar menjadi pesindhen, semuanya akan mendampingi pesindhen yang asli, mereka semua juga ikut ‘manggung’ untuk mempraktikkan hasil belajarnya. Seminggu  menjelang hari pagelaran, kami semua giat berlatih menabuh seluruh gendhing-gendhing yang akan dipakai. Guru saya, selama seminggu itu juga sibuk mempersiapkan tulisan ‘not gendhing’ (notasi atau partitur gendhing) yang akan dipakai.


Dari Kota Semarang, ini merupakan sejumlah siswa yang belajar memainkan ricikan gamelan Jawa pada perguruan kesenian Jawa Sobokartti. Kelompok mereka, disebut ‘Soborawit’. Mereka, menyempatkan diri berfoto dengan gembira. (Sumber: Kiriman foto koleksi Mas Supono, Sobokartti).


Hari pagelaran yang dinanti-nanti pun tiba. Pukul tiga sore, semua anggauta Grup Karawitan Laras Mudha Irama sudah berkumpul dan semuanya, lalu memakai pakaian adat tradisional Jawa gaya Surakarta, yaitu memakai kain batik yang polanya semuanya seragam ‘Parang Rusak’, dengan baju beskap berwarna putih, dan ‘blangkon’ (di pedesaan ‘blangkon’ sering disebut ‘mit’). Demikian pula, sembilan putri yang akan berperan sebagai pesindhen, semuanya sudah berkumpul dan sudah memakai baju kebaya brokat putih lengan panjang, yang bagian depannya memakai ‘kuthu baru’, dengan kain batik berpola Parang Rusak. Sebuah selendang, diselempangkan di pundak. Para putri ini, semuanya bersanggul dengan ‘cundhuk  mentul’ yang berhiaskan sederetan manik-manik kecil, yang membuat cundhuk mentul itu terlihat gemerlap berkelap-kelip saat terkena cahaya.

Kesembilan putri kecil itu, sekarang sudah berubah bagaikan sembilan bidadari kecil, yang turun dari kahyangan. Berjingkat-jingkat mereka berjalan perlahan-lahan, dan berhati-hati,  memakai selop yang agak tinggi. Mungkin karena belum  terbiasa dengan pakaian adat dan selop yang agak tinggi itu. Senyum kesembilan bidadari kecil itu terlihat sumringah.  Pagelaran akan dilaksanakan secara lengkap, dan dimulai dari sekitar jam setengah lima sore, terus menerus sampai subuh, pagi hari berikutnya. Selama nyaris dua-belas jam penuh.  Meskipun materinya sederhana, tetapi jumlah dan materi gendhing-nya lengkap. 

Ada gendhing-gendhing soran, yang dimainkan sore hari (antara pukul setengah lima sampai magrib) sebagai bagian dari ‘klenengan sore’. Bagian ini, seluruhnya dimainkan oleh seluruh anggauta Grup Karawitan Laras Mudha Irama. Karena merupakan gendhing soran, maka tidak memerlukan pemain ricikan alusan. Kebanyakan merupakan gendhing-gendhing jenis lancaran dan ladrang  yang berirama cepat, dan dimainkan dalam pola ‘soran’ (ditabuh keras-keras), tanpa disertai suara vokal pesindhen. Seluruh permainan gendhing soran, ditetapkan memakai Gamelan Laras Pelog. Tujuannya, jelas supaya berkesan meriah dan ramai. Menjelang magrib, permainan dihentikan sejenak, untuk memberikan kesempatan sholat magrib.


Ini adalah sesi foto bersama, yang dilakukan sesaat selepas selesainya latihan karawitan wayangan dan Tembang Suluk Pesisir; dalam rangka Pagelaran Resital Karawitan Wayangan dan Tembang Suluk Pesisir; yang dilaksanakan untuk mengawali Pagelaran Wayang Kulit Purwa; yang dilakukan di Gedung Aula Barat, Institut Teknologi Bandung, pada hari Minggu pagi, 20 Agustus 2023.


Selepas magrib, permainan dilanjutkan dengan pilihan gendhing-gendhing yang lebih halus. Pada bagian ini, mulai dimainkan ‘klenengan wayangan’ yang kebanyakan memakai Tangga-Nada Slendro Pathet Manyura. Sembilan bidadari yang berperan menjadi 'pesindhen ajaran’, mulai melakukan tugasnya, tetapi tidak disertai pesindhen asli. Berbagai gendhing alusan dimainkan sampai menjelang Isya. Tepat  menjelang Sholat Isya, permainan dihentikan. 

Lalu, semua penabuh anak-anak turun panggung untuk melakukan Sholat Isya; dan, setelah itu, dilanjutkan dengan makan malam bersama dalam bentuk ‘slametan’. Saat makan bersama itulah, untuk pertama kali kami semua bertemu dan diperkenalnya oleh guru saya, dengan bapak-bapak para penabuh profesional, yaitu Pak Hardja Tingtong, Pak Hardja Cukur, Pak Suparmin, dan Pak Musrin. Selain itu, juga diperkenalkan dengan ibu pesindhen asli yang baru datang bersama pak dhalang yang akan membawakan cerita malam itu. 

Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan mereka semua. Dengan seksama, kami semua berusaha mendengarkan dan mengikuti pembicaraan antara dhalang dengan para penabuh dan pesindhen. Beberapa bagian dari pembicaraan itu bersifat sangat teknis, meliputi gendhing pengiring apa saja yang akan dipakai selama pagelaran berlangsung, beserta sejumlah penjelasan tentang detail cara ‘garap’-nya. Guru saya juga mewanti-wanti pak dhalang, supaya selalu ingat, bahwa kali ini yang mengiringinya, lebih dari separoh merupakan ‘nayaga ajaran’ (pemain gamelan yang sedang dalam tahap belajar). Karena itu, berkali-kali guru saya mengingatkan pak dhalang supaya tidak meminta dimainkannya gendhing lain, selain yang ditulis dalam lembar-lembar not gendhing. Pak dhalang dan para pemain profesional beserta ibu pesindhen asli, semuanya mengangguk-angguk, sambil sesekali tersenyum ‘ngayem-ayemi’ (menenangkan hati) kepada para ‘nayaga ajaran’ yang semuanya masih anak-anak dan terlihat agak was-was.

Mungkin, karena malam itu untuk pertama kalinya, kami semua akan mengiringi pagelaran wayang kulit purwa semalam suntuk. Pembicaraan panjang-lebar itu, dipimpin oleh guru saya, dikelilingi semua peserta, sambil menyantap makan malam, yang terasa sangat sedap. Setelah seluruh pembicaraan selesai, maka barulah kami semua bisa menyantap makan malam dengan lahap. 

Pukul setengah sembilan malam, kami semua naik ke panggung pagelaran disertai tepuk tangan meriah para penonton. Ada perasaan sangat senang, bercampur bercampur sedikit rasa was-was, saat kami naik ke panggung pagelaran.  Meskipun sebelumnya kami semua sudah  memainkan gamelan sejak sore hari sampai  sebelum Isya tadi; tetapi, memang terasa sangat  berbeda, saat kami naik kembali ke panggung  sebagai pengiring pagelaran wayang kulit purwa  semalam suntuk. Apalagi, sekarang kami naik  panggung bersama dengan para penabuh gamelan  profesional. 

Para bidadari kecil yang cantik-cantik sahabat saya, semuanya duduk berjajar bersama dengan ibu pesindhen asli. Pak Hardja Tingtong, sudah menempati tempat duduknya dan sedang menyetel Rebab. Pak Hardja Cukur duduk di tempat Ricikan Gender Pambarung. Pak Musrin duduk di depan Ricikan Gender Panerus. Pak Suparmin, sibuk menyetel dawai-dawai Siter-nya,menyesuaikan dengan nada gamelan yang dipakai. Adapun guru saya, duduk dan mengatur kembali letak Kendhang Kosek Wayangan, Kendhang Sabet Wayangan, Kendhang Ciblon, serta Kendhang Bem; di sekeliling tempat duduknya, sambil menyesuaikan dan mengatur letaknya, supaya sesuai dengan jangkauan tangannya. 


Para anggota baru PSTK-ITB (Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa - Institut Teknologi Bandung), bersama dengan sejumlah alumni ITB, dan alumni ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia), Bandung; naik panggung pagelaran, melaksanakan Pagelaran Resital Karawitan Wayangan dan Tembang Suluk Pesisir, untuk mengawali dan meramaikan Pagelaran Wayang Kulit Purwa, yang dilaksanakan pada hari Minggu pagi, tanggal 20 Agustus 2023; di Gedung Aula Barat, Institut Teknologi Bandung.


Beberapa saat kemudian, terasa sunyi. Kami semua merasa  agak tegang. Waktu terasa berjalan lambat. Lalu Rebab Pak Hardja Tingtong tiba-tiba memperdengarkan suara 'senggrengan' yang sangat khas. Sesaat kemudian, terdengar Aba-Aba Buka Rebab. Dan, kemudian, tak terasa kami sudah memainkan Gendhing Ladrang Mugi Rahayu, Laras Slendro Pathet Manyura. Gendhing Talu Wayangan-pun dimulai, berhiaskan suara merdu gerongan dan sindhenan para bidadari kecil yang menjadi ‘pesindhen ajaran’ ditimpali suara merdu Ibu pesindhen asli. Ketegangan perlahan-lahan menjadi cair, saat seluruh rangkaian GendhingTalu Wayang mulai dimainkan. Saat itu, saya merasakan perasaan yang luar biasa, tak terperikan, dan sangat sukar untuk diceritakan. 

Ada perasaan senang, bahagia, bangga, dan yang jelas saya amat sangat menikmati malam pagelaran yang semarak itu. Gendhing Ladrang Mugi Rahayu, lalu dipindahkan ke Ayak-Ayak Talu. Perpindahan ke Ayak-ayak itu, membuat hati saya berdebar. Ada kesan mistis yang sangat kuat terasa. Lalu, Srepegan Manyura, disambut dengan Sampak Manyura yang gemuruh bertalu-talu. Dan, beberapa saat kemudian, gemuruh Sampak-pun berhenti tiba-tiba dengan nada-nada  monoton yang mencekam. 

Pak dhalang sudah naik panggung dan duduk tepat di depan gunungan. Bersamaan dengan itu, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya ditinggalkan sebuah lampu ‘blencong’ yang menerangi layar wayang. Tiba-tiba saja, saya mencium bau asap bakaran 'menyan' (kemenyan). Dari sudut depan, saya melihat seseorang sedang membakar kemenyan.  Sementara pak dhalang terlihat khusyuk, menundukkan  kepala, sambil menutupi bagian atas kepalanya memakai sebuah gunungan. Gapit gunungan-nya dipegang memakai tangan kanan, sedangkan ujung gunungan itu dipegangnya dengan jari tangan kirinya. Gunungan-nya sedikit ditekuk ujungnya, sehingga lembarnya melengkung dan menutupi bagian atas kepalanya. Ia terlihat khusyuk membaca doa, serta mantera pagelaran.

Suasana yang remang-remang, berkesan sangat sakral dan mistis. Apalagi dengan terciumnya bau asap kemenyan  dan asapnya yang mengepul melayang kemana-mana. Beberapa saat, terjadi kesunyian yang mencekam. Lalu, sesaat kemudian, terdengar bunyi gedhog, memberikan aba-aba  pertanda jejer pertama dimulai. Gendhing Ayak-ayak Manyura mulai menggema, lalu pagelaran wayang semalam suntuk pun dimulailah.

Saya, sama tak bisa melupakan peristiwa itu, sepanjang hayat. Pagelaran wayang yang pertama; semuanya, seperti baru terjadi hari kemarin saja. Dan, sejak itu pula, saya selalu merindukan pagelaran wayangan kulit purwa yang klasik dan sangat tradisional. Merindukan tidak saja nonton, tetapi juga ikut terlibat mengiringinya. Merindukan alunan Gendhing Talu Wayangan. Merindukan untuk selalu mendengarkan saat-saat perpindahan, ke Ayak-ayak Talu, yang bisa membuat bulu kuduk meremang, merasakan penuh magis, mistik, dan merinding. Serasa tak ada duanya. Semuanya bagai mimpi, yang saya sampai sekarang bahkan masih bisa mendengar  secara jelas bagaimana bunyi gamelannya, bagaimana suara merdu sembilan bidadari kecil, sahabat-sahabat saya membawakan tembang parwa yang sangat memukau, memikat, dan tak bisa terlupakan…..


________________

[1]  Sebutan PN Perhutani (Perusahaan Negara Perhutani), kemudian lalu diganti menjadi Perum Perhutani (Perusahaan Umum Perhutani). Untuk wilayah Jawa Tengah, sebutan resmi perusahaan ini, adalah Perum Perhutani Unit I JawaTengah.

[2]  Sekarang, sebutan ‘Brigade Planologi’ sudah diganti menjadi ‘Biro Perencanaan’. Pimpinan Brigade Planologi disebut ‘Kepala Brigade Planologi’. Tetapi setelah sebutannya berubah menjadi ‘Biro Perencanaan’, pimpinannya lalu disebut ‘Kepala Biro Perencanaan’.

[3] Ibu saya, juga seorang penari Jawa gaya Yogyakarta.

[4] Dari Pak Musrin inilah saya belajar membuat sendiri berbagai jenis mesin bubut kayu. Semua yang diajarkan kepada saya, pernah saya buat sendiri saat saya masih duduk di kelas dua SMP. Misalnya, mesin bubut kayu jenis ‘pancingan’, yang memakai batang buluh bambu panjang sebagai per penarik dan pemutar benda kerjanya. Mesin bubut kedua, saya buat persis seperti yang dipakai Pak Musrin, yaitu memakai velg roda sepeda.









Tidak ada komentar: